PENGARUH
WANITA KARIER TERHADAP PENINGKATAN KENAKALAN DI KALANGAN REMAJA
Silvi Ariyanti
1)Jurusan Teknik Industri, Fakultas
Teknik, Universitas Islam Sumatera Utara,
Jl. Sisingamagarara, Teladan,
Medan, Indonesia
ABSTRAK
Salah satu dampak krisis moneter
adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin
mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya
adalah menambah penghasilan keluarga, yang akhirnya kalau biasanya hanya ayah
yang bekerja sekarang ibu pun ikut bekerja. Semakin aktif perempuan menjalankan
posisinya diluar rumah maka akan semakin berkurang perhatian, pemikiran dan
pelaksanaan tugasnya didalam rumah. Hal ini yang dapat membawa dampak yang
kurang baik bagi jiwa serta pendidikan anak-anak. Rumusan masalah dalam kajian
ini adalah untuk mengetahui dan membuktikan apakah ibu bekerja merupakan salah
satu faktor penyebab kenakal dikalangan remaja. Metode penelitian yang
dijalankan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan menggunakan metode
survei dengan menyebarkan quisioner dan wawancara langsung kepada 250 orang
remaja yang ibunya bekerja dan yang tidak bekerja dibeberapa sekolah SMA negri
dan swasta, tinjauan langsung ke Balai Rehabilitasi Narkoba yang terdapat di
Kota Medan. Analisa data yang dilakukan dalam kajian ini statistik yaitu analisa
deskriptif dan korelasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: hipotesa yang
menyatakan wanita karier merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
peningkatan kenakalan dikalangan remaja ditolak karena tidak signifikan,
perhatian ibu, perhatian ibu terhadap mendidikan anak, komunikasi yang baik
antara ibu dan remaja, kegiatan remaja yang diketahui ibunya, seringnya ibu
memberikan motivasi dan nasehat kepada anaknya, mengetahui dengan siapa anak berteman,
dan menunjukkan perhatian ketika anak belajar dirumah dapat memberikan pengaruh
terhadap kenakalan remaja.
Kata Kunci: Ibu bekerja, Ibu tidak bekerja, Kenakalan
remaja
1. Pendahuluan
Meningkatnya gejala kenakalan
dikalangan remaja saat ini antara lain dikarenakan semakin kompleksnya masalah
kehidupan. Hal ini akan menimbulkan kelonggaran-kelonggaran komunikasi didalam
keluarga. Spikolog banyak menemukan bahwa keluarga yang retak adalah penyebab
dari bermacam-macam tingkah laku anti sosial misalnya, kenakalan remaja,
kecanduan obat dan alkoholik, sama halnya dengan bunuh diri. Kurangnya kasih
sayang dan dukungan dari orang tua. Seorang anak yang tumbuh dari perasaan
tidak dicintai dan tidak dikehendaki oleh orang tuanya akan mengakibatkan anak
menjadi frustasi, marah dan mengalami depresi.
Perumusan Masalah
Dengan semakin meningkatnya
kejahatan remaja akhir-akhir ini tak lepas dari pengaruh kurangnya perhatian
dan kasih sayang seorang ibu. Perhatian dan kasih sayang ibu yang seharusnya
dimiliki oleh anak-anak kini harus berbagi dengan konsentrasi ibu dalam
menjalankan perannya berkarir diluar rumah. Dengan melihat fenomena yang telah
dipaparkan diatas, maka penelitian ini dijalankan untuk membuktikan apakah ibu
bekerja merupakan salah satu faktor penyebab kenakal dikalangan remaja.
2. Landasan Teori
Peranan Ibu Bagi Anaknya (Farid Ma’ruf, 2007)
Seorang
ibu mempunyai peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini.
Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anaknya, sosok pertama pula
yang memberikan rasa aman dan nyaman serta sosok yang dia percaya. Karena itu,
ibu menjadi sekolah petama bagi anak-anaknya. Peran ibu dalam mendidik anaknya
ini sangat penting karena dapat menentukan kualitas generasi masa depan suatu
masyarakat dan negara. Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa ibu ibarat
tiang negara. Tinggi rendahnya moralitas suatu bangsa dapat dilihat dari tinggi
rendahnya moralitas para ibu dinegara itu atau sejauh mana kepedulian para ibu
dalam mendidik anak-anaknya.
Mengapa
Wanita Berkarir
Ada beberapa alasan yang melatar
belakangi mengapa seorang ibu bekerja (Anna, 2007):
A.
Tuntutan hidup
Ada beberapa wanita bekerja bukan karena ingin bekerja
tetapi lebih karena tuntutan hidup.
B.
Pendapatan tambahan untuk
keleluasaan financial
Peran
ibu untuk mencari ini bukan hanya berlaku bagi mereka yang kelas ekonominya
rendah. Beberapa wanita karier di Jakarta yang
suaminya sudah cukup mapan untuk menghidupkan keluarga mengatakan bahwa kalau
mengandalkan gaji suami saja cukup tapi kita kan ingin lebih.
C.
Aktualisasi diri dan prestise
Wanita
telah bersusah payah untuk sekolah dan mengejar ilmu bersaing dengan
teman-teman putra mereka. Mereka pasti ingin melakukan sesuatu dalam dunia
kerja, baik karena ingin dan harus mandiri dalam segi financial maupun karena
mereka tertantang untuk mengamalkan ilmunya dan berperan dalam masyarakat.
D.
Pengembangan bakat menjadi komersil
Banyak
juga ibu rumah tangga yang menjadi pengusaha atau tokoh terkenal bukan karena
mereka mengejar karier tetapi karena dengan sendirinya mereka berkembang oleh
bakat yang dimilikinya.
E.
Kejenuhan di rumah
Ada juga para ibu yang rela meninggalkan anak-anak di
rumah bukan karena desakan ekonomi dan bukan pula karena desakan batin untuk
mengaktualisasikan dirinya.
Dampak keputusan berkarier
Jika seorang ibu memutuskan untuk
berkarier dan menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain, ada konsekuensi atau
dampak yang mau tidak mau akan mengikutinya, kecuali jika anda dapat
meminimalisasi atau mengantisipasinya.
A.
Melemahnya Ikatan Emosi
dengan Anak
Tak dapat disangkal lagi bahwa waktu yang seorang ibu
bekerja habiskan diluar rumah dan jauh dari anak berdampak pada kuat lemahnya
ikatan emosi anak dengan Anda. Saat anak menangis dan membutuhkan belaian, si baby-sitter-lah yang ada di sampingnya.
B.
Anak Menjadi Korban
Jika seorang ibu tidak jeli, anak-anak bisa menjadi
korban pelecehan pembantu baik pelecehan secara fisik ataupun secara mental.
C.
Kurangnya Daya Juang Anak
Bila anak diasuh oleh
neneknya, seorang nenek pada umumnya lebih suka mencurahkan kasih sayang yang
bahkan berlebihan,sangat berbeda di bandingkan saat dia mengasuh anaknya
dahulu.
D.
Perkembangan Mental anak
yang tidak sesuai standar anda
Meninggalkan anak dalam
asuhan orang lain tentunya membentuk pola asuh yang tidak sesuai dengan standar
kita karena tiap orang punya gaya dan keyakinan masing-masing.
3. Metode Penelitian
Data dikumpulkan dengan
menggunakan metode survey dengan menggunakan quisioner dan melakukan wawancara
langsung kepada siswa-siswi SMA negri dan swasta yang tersebar di kota Medan. Wawancara ini dilakukan terhadap 250 siswa-siswi SMA
yang diambil secara acak. Dari 250 orang siswa/siswa yang ditemui yang berhasil
diwawancara adalah 235 orang dan 15 orang respondent sangat tertutup terdapat
banyak pertanyaan yang tidak bersedia dijawab sehingga datanya dianggap tidak
valid.
Analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisa
statistik yang terdiri dari deskriptif (Analisa frekwensi) dan korelasi linear.
Metode
deskriptif dilakukan untuk menghitung frekuensi pendapat-pendapat remaja yang
diklasifikasikan pada dua bahagian yaitu ibu berkerja dan ibu yang tidak
bekerja. Korelasi Pearson digunakan dalam analisa pada penelitian ini. Kerana
hubungan korelasi yang ingin dilihat adalah hubungan antara pasangan variabel
independent (X) dan variabel dependent (Y) (Nazir, 1983). Pada analisis ini
yang menjadi variabel independent ialah latar belakang remaja, hubungan dengan
ibu dan perhatian ibu terhadap pergaulan dan pendidikan remaja. Sementara
variabel independent adalah tingkat kenakalan remaja.
4. Analisa dan Pembahasan
Jumlah responden remaja terdiri
dari 235 orang siswa-siswi SMA yang tersebar dikota medan. Dari gambar dapat
dilihat bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki terdiri dari 200 orang
dan responden yang berjenis kelamin perempuan terdiri dari 35 orang.
Persentase responden yang
memiliki ibu bekerja terdiri dari 55,9 % atau 132dan ibu yang tidak bekerja
terdiri dari 44,1% atau 103 orang. Data ini menunjukkan persentase ibu berkerja
lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Berdasarkan peningkatan
ibu bekerja dikalangan masyarakat menimbulkan pemikiran bagi kami peneliti
apakah ibu bekerja merupakan salah satu faktor penyebab peningkatan kenakalan
dikalangan remaja. Berdasarkan analisa data yang dilakukan dari 132 orang ibu
bekerja responden yang menyatakan dirinya pernah terlibat dalam kenakalan
remaja adalah 85 orang atau 64,4%. Dan dari 103 ibu yang tidak bekerja yang
memiliki anak remaja yang menjadi responden yang menyatakan dirinya pernah
terlibat dengan kenakalan remaja adalah sebesar 70 orang 68%. Hal ini
menunjukkan bahwa persentase remaja yang terlibat dengan kenakalan remaja oleh
remaja yang ibunya bekerja dan yang tidak bekerja menunjukkan nilai yang hampir
sama besar. Dan berdasarkan analisa korelasi menunjukkan nilai korelasi -0,029 dengan
nilai a sebesar 0,660. Ini merupakan nilai yang sangat kecil yang dapat dinyatakan
dengan tidak adanya hubungan antara ibu bekerja dan kenakalan remaja atau ibu
bekerja bukan merupakan faktor penyebab kenakalan remaja, tetapi nilai ini
tidak signifikan karena nilai a lebih besar dari dari 0,05.
Tingkat
Kedekatan Antara Ibu dan Anak
Tabel 4.1 Tingkat kedekatan
antara ibu dan anak untuk ibu bekerja
|
Tingkat Kedekatan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak dekat
|
1
|
8
|
|
Kurang dekat
|
15
|
11,4
|
|
Dekat
|
52
|
39,4
|
|
Sangat dekat
|
64
|
48,5
|
Tabel 4.2 Tingkat kedekatan
antara ibu dan anak untuk ibu tidak bekerja
|
Tingkat Kedekatan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak dekat
|
1
|
1,0
|
|
Kurang dekat
|
7
|
6,8
|
|
Dekat
|
37
|
35,9
|
|
Sangat dekat
|
58
|
56,3
|
Dari kedua tabel diatas yaitu
dapat kita lihat perbandingan antara tingkat kedekatan anak dengan ibunya
antara ibu yang bekerja dan ibu yang bekerja menunjukkan persentase untuk
tingkat tidak dekat dan kurang untuk ibu bekerja menunjukkan angka yang sedikit
lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.
Dan dari hasil perhitungan
korelasi antara ibu bekerja dengan remaja yang menyatakan terlibat dengan
kenalan remaja menunjukkan nilai -0,133 dengan nilai a = 0,042. hal ini
menunjukkan bahwa hubungan korelasi antara tingkat kedekatan anak dan ibunya
dengan kenakalan remaja memiliki hubungan negatif yang lemah hal ini berarti
semakin dekat seorang anak dengan ibunya maka semakin anak tidak terlibat
dengan kenakalan remaja. Maka diharapkan seorang ibu bekerja walau sesibuk
apapun kegiatannya diluar rumah membina hubungan yang baik dengan anak
merupakan hal yang sangat penting.
Perhatian
Ibu Terhadap Remaja
Dari kedua tabel dibawah dapat
dilihat bahwa tingkat perhatian terhadap anak antara ibu bekerja dan ibu tidak
bekerja untuk tingkat perhatian dan sangat perhatian ibu tidak bekerja memiliki
frekwensi yang sedikit lebih besar dibanding ibu bekerja.
Tabel 4.3 Persentase perhatian
ibu dengan anaknya untuk ibu bekerja
|
Tingkat Perhatian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak ada perhatian
|
1
|
8
|
|
Kurang perhatian
|
4
|
3
|
|
Perhatian
|
50
|
37,9
|
|
Sangat perhatian
|
77
|
58,3
|
Tabel 4.4 Persentase perhatian
ibu dengan anaknya untuk ibu tidak bekerja
|
Tingkat Perhatian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak ada perhatian
|
1
|
1
|
|
Perhatian
|
30
|
29,1
|
|
Sangat perhatian
|
72
|
69,9
|
Dan untuk hubungan korelasi antara perhatian ibu
dengan keterlibatan remaja dengan dengan kenakalan remaja menunjukkan nilai
-0,169 dengan nilai a = 0,043. Hal ini berarti hubungan korelasi antara perhatian ibu dan
kenakalan remaja menunjukkan hubungan negatif yang lemah dengan maksud semakin
perhatian seorang ibu dengan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan yang
dilakukan remaja atau sebaliknya semakin tidak perhatian seorang ibu dengan
anaknya maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja.
Tingkat
Keberadaan Ibu Ketika Anak Membutuhkan.
Seorang
anak selalu membutuhkan seorang ibu untuk tempatnya mengadu atau pun berbagi
cerita tentang kebahagiaan yang dialami. Karena hubungan ibu dengan anak sudah
terbina ketika seorang anak masih berada didalam rahimnya, kemudian
ketergantungan anak kepada ibunya ketika anak masih menyusu pada ibunya.
Dari kedua tabel diatas yaitu
tabel dapat dilihat bahwa ketidak beradaan seorang ibu disaat anak membutuhkan
menunjukkan perbedaan nilai yang sangat kecil antara ibu bekerja dan ibu tidak
bekerja. Dan dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk hubungan antara
keberadaan ibu ketika anak membutuhkan dengan kenakalan remaja menunjukkan
nilai -0,136 dengan nilai a = 0,104. Ini berarti nilai
korelasi memiliki hubungan yang sangat lemah dan nilai ini tidak signifikan
karena nilai a yang diperoleh lebih besar dari
0,05.
4.5 Tingkat keberadaan ibu ketika
anak membutuhkan untuk ibu bekerja
|
Tingkat Keberadaan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak pernah ada
|
2
|
1,5
|
|
jarang
|
25
|
18,9
|
|
Selalu ada
|
105
|
79,5
|
4.6 Tingkat keberadaan ibu ketikan anak membutuhkan
untuk ibu tidak bekerja
|
Tingkat Keberadaan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak pernah ada
|
2
|
1,9
|
|
jarang
|
17
|
16,5
|
|
Selalu ada
|
84
|
81,6
|
Besar
Perhatian Ibu Terhadap Pendidikan Anak
Perhatian
dari seorang ibu terhadap anaknya merupakan suatu dorongan yang berarti bagi
keberhasilan pendidikan anak. Karena ibu merupakan guru pertama bagi seorang
anak sejak dari anak dilahirkan. Perhatian dan nasehat yang selalu diberikan
kepada anak akan memberi kesan yang baik bagi kehidupan seorang anak. Dari
kedua tabel dibawah ini kita dapat melihat ibu bekerja memberikan perhatian
terhadap pendidikan anaknya sedikit lebih besar dibanding dibanding ibu
bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa sesibuk apa pun seorang ibu pasti akan
selalu berusaha untuk memberikan perhatian terhadap pendidikan anak.
Tabel 4.7 Besarnya perhatian ibu
terhadap mendidikan anak untuk ibu bekerja
|
Tingkat Perhatian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak ada perhatian
|
1
|
8
|
|
Kurang perhatian
|
3
|
2,3
|
|
Perhatian
|
36
|
27,3
|
|
Sangat perhatian
|
92
|
69,7
|
Tabel 4.8 Besarnya perhatian ibu terhadap mendidikan
anak untuk ibu tidak bekerja
|
Tingkat Perhatian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak ada perhatian
|
2
|
1,9
|
|
Perhatian
|
36
|
35,0
|
|
Sangat perhatian
|
65
|
63,1
|
Dari hasil analisa korelasi didapati
bahwa hubungan korelasi antara perhatian ibu terhadap mendidikan anak memiliki
hubungan yang walaupun kecil terhadap kenakalan remaja dengan nilai korelasi
sebasar -0,193. Ini berarti semakin besar perhatian seorang ibu terhadap pendidikan
anaknya maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja dan sebaliknya semakin
kurang perhatian yang ditunjukkan ibu terhadap pendidikan anaknya maka semakin
tinggi tingkat kenalan remaja. Hipotesa ini dapat diterima karena nilai a yang diperoleh lebih
kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,021.
Ibu
Merupakan Teman Ngobrol yang Baik Bagi Remaja
Menjadi teman ngobrol yang baik
bagi remaja merupakan suatu usaha yang dilakukan bagi orang tua untuk membantu
perkembangan remaja. Karena komunikasi yang baik antara orang tua dengan remaja
dapat menimbulkan hubungan yang harmonis antara keduanya sehingga dapat terbina
persahabatan yang baik yang akan berlangsung seumur hidup. Menjadi sahabat yang
baik bagi remaja dapat membantu orang tua untuk dapat mempersiapkan anaknya
menjadi orang dewasa yang kompeten yang tidak terjerat dilingkungan sosial yang
kurang baik.
Tabel 4.9 Teman ngobrol yang baik
bagi remaja untuk ibu bekerja
|
Teman ngobrol yang baik
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak
|
5
|
3,8
|
|
Biasa saja
|
62
|
47
|
|
Ya
|
131
|
48,9
|
Tabel 4.10 Teman ngobrol yang baik bagi remaja untuk
ibu tidak bekerja
|
Teman ngobrol yang baik
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak
|
6
|
5,8
|
|
Biasa saja
|
51
|
49,5
|
|
Ya
|
46
|
44,7
|
Dari kedua tabel diatas dapat dibandingkan pendapat
remaja apakah ibunya merupakan teman ngobrol yang baik atau tidak. Dari kedua
tabel dapat dapat kita libat bahwa pendapat remaja tentang ibu merupakan teman
ngobrol yang baik untuk ibu bekerja menunjukkan persentase sedikit lebih besar
dibandingkan dengan ibu tidak bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa bukan lamanya
waktu yang menjadi pengaruh untuk menjalin komunikasi yang baik dengan remaja
melain bagaimana cara komunikasi itu dilakukan.
Dari hasil analisa korelasi yang telah dilakukan
hubungan antara ibu merupakan teman ngobrol yang baik bagi remaja dengan kenakalan
remaja menunjukkan nilai -0,152. Hal ini merupakan hubungan negative yang
lemah. Tetapi hipotesa ini ditolak karena nilai a yang diperoleh lebih besar dari 0,05 yaitu 0,071.
Kegiatan Anak yang Diketahui Ibu
Seorang ibu sebaiknya harus mengetahui kegiatan yang
dilakukan anaknya agar dapat mengontrol dan memberikan arahan-arahan terhadap
baik buruknya kegiatan yang dilakukan remaja. Dengan menjalin komunikasi yang
baik seorang ibu dapat mengetahui apa saja kegiatan yang dilakukan anaknya.
Selalu meluangkan waktu pada sore atau malam hari pada saat istirahat untuk
berbagi cerita tentang kegiatan yang
telah dilalui pada hari tersebut merupakan suatu moment yang sangat baik bagi
usaha-usaha orang tua untuk dapat membina kehidupan yang baik bagi anaknya,
terutama remaja. Dari kedua tabel dibawah ini dapat dilihat bahwa untuk
mengetahui seluruh kegiatan anaknya memiliki persentase dibawah 25%. Tetapi ibu
tidak bekerja lebih mengetahui kegiatan yang dilakukan anaknya sedikit lebih
besar dibanding ibu bekerja. Ini menunjukkan bahwa ibu yang tidak bekerja lebih
memiliki waktu untuk memantau kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya.
Tabel 4.11 Kegiatan anak yang diketahui ibu untuk ibu
bekerja
|
Kegiatan bersama anak yang
ketahui ibu
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak
|
6
|
1,5
|
|
Sebagian saja
|
97
|
73,5
|
|
Tahu seluruhnya
|
29
|
22,0
|
Tabel 4.12 Kegiatan anak yang diketahui ibu untuk ibu
tidak bekerja
|
Kegiatan bersama anak yang
ketahui ibu
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak
|
1
|
1,0
|
|
Sebagian saja
|
77
|
74,8
|
|
Tahu seluruhnya
|
25
|
24,3
|
Dari analisa korelasi yang dilakukan untuk melihat
pengaruh antara kegiatan remaja yang diketahui ibunya dengan tingkat kenakalan
remaja menunjukan koefisien korelasi sebesar -0,181. Nilai ini menunjukkan
nilai hubungan yang kecil. Ini berarti bahwa semakin ibu mengetahui kegiatan
yang dilakukan remaja maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja atau
sebaliknya semakin tidak tahu ibu terhadap kegiatan anaknya maka semakin
nakallah seorang remaja. Dan hipotesa ini diterima karena nilai a yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,03.
Motivasi
dan Nasehat yang Diberikan Ibu Kepada Anak
Motivasi dan nasehat yang selalu
diberikan oleh seorang ibu banyak memberikan pengaruh bagi kehidupan anaknya.
Karena nasehat dan motivasi yang selalu diberikan oleh ibunya merupakan panduan
bagi anaknya dalam kehidupannya dimasa kini dan dimasa yang akan datang. Dari
tabel dibawah dapat kita lihat ibu bekerja lebih sering memberikan motivasi dan
nasehat kepada anak-anaknya dibanding ibu yang tidak bekerja. Hal ini menunjukkan
ibu bekerja lebih membina waktu pertemuan dengan anaknya lebih berkualitas
dibandingan dengan ibu bekerja.
Tabel 5.13 Motivasi dan Nasehat
yang diberikan ibu untuk ibu bekerja
|
Motivasi yang diberikan ibu
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak
|
1
|
8
|
|
Kadang-kadang
|
5
|
3,8
|
|
Sering
|
61
|
46,2
|
|
Sangat sering
|
65
|
49,2
|
Tabel 5.14 Motivasi dan Nasehat yang diberikan ibu
untuk ibu tidak bekerja
|
Motivasi yang diberikan ibu
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Kadang-kadang
|
8
|
7,8
|
|
Sering
|
47
|
45,6
|
|
Sangat sering
|
48
|
46,6
|
Dari analisa korelasi yang telah
dilakukan untuk melihat hubungan antara seringnya ibu memberi nasehat dan
motivasi kepada anaknya berhubungan dengan kenakalan remaja menunjukkan nilai
koefisien korelasi negative yaitu 0,234. Hal ini berarti semakin sering ibu
memberikan motivasi dan nasehat kepada anaknya maka semakin rendah tingkat
kenakalan remaja atau sebaliknya semakin jarang ibu memberikan nasehat kepada
anaknya maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja. Dan hipotesa ini dapat
diterima karena nilai a yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,005.
Dan tanggapan remaja atas motivasi dan nasehat yang
diberikan kepada anaknya untuk ibu bekerja remaja lebih mendengarkan nasehat
ibunya dibanding dengan remaja yang memiliki ibu yang tidak bekerja seperti
yang ditunjukkan pada kedua tabel dibawah ini.
Tabel 5.15 Tanggapan remaja atas motivasi dan nasehat
yang diberikan untuk ibu bekerja
|
Tanggapan remaja
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Bosan
|
2
|
1,5
|
|
Biasa saja
|
42
|
31,8
|
|
Selalu saya dengarkan
|
88
|
66,7
|
Tabel 5.16 Tanggapan remaja atas
motivasi dan nasehat yang diberikan untuk ibu tidak bekerja
|
Tanggapan remaja
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Biasa saja
|
29
|
28,2
|
|
Selalu saya dengarkan
|
74
|
71,8
|
Dan dari analisa korelasi yang
telah dilakukan untuk melihat hubungan antara selalu mendengar nasehat dan
motivasi yang diberikan ibunya dengan tingkat kenakalan remaja menunjukkan
nilai negatif yaitu -0,196 ini berarti semakin di dengarkan nasehat dan
motivasi yang diberikan oleh seorang ibu maka semakin rendah tingkat kenakalan
remaja demikian sebaliknya semakin jarang ibu memberikan nasehat dan motivasi
terhadap anaknya maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja. Dan hipotesa ini
dapat diterima karena memiliki nilai a lebih kecil dari 0,05
yaitu 0,019.
Anak Merasa
Tidak Nyaman Ketika Pulang Ibu Tidak Berada Dirumah
Adanya
perasaan anak tidak nyaman ketika ia pulang kerumah mendapati ibunya tidak
berada dirumah menunjukkan suatu hubungan kedekatan yang baik antara anak dan
ibunya. Seorang anak selalu mengharapkan ketika ia pulang kerumah dapat bertemu
ibunya untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang diharapkan
didapatkannya didalam rumah. Tetapi bila anak pulang kerumah yang selalu
didapatinya adalah rumah selalu dalam keadaan sepi, keadaan ini dapat membuat
anak mencari pelarian kepergaulan yang kurang baik untuk melampiaskan
perasaannya. Lambat laun perasaan tidak nyaman itu akan hilang karena
keberadaan ibu sudah tidak lagi diharapkan karena dapat digantikan oleh
teman-teman dan pergaulannya. Dari tabel kedua tabel dibawah ini dapat dilihat
bahwa 43,2% remaja dengan ibu bekerja memiliki perasaan tidak nyaman karena
ibunya selalu tidak berada dirumah.
Tabel 5.17 Anak merasa tidak
nyaman ketika pulang ibu tidak berada di rumah untuk ibu bekerja
|
Tanggapan remaja
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Ya
|
57
|
43,2
|
|
Biasa saja
|
63
|
47,7
|
|
Tidak
|
12
|
9,1
|
Tabel 5.18 Anak merasa tidak nyaman ketika pulang ibu
tidak berada di rumah untuk ibu tidak bekerja
|
Tanggapan remaja
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Ya
|
37
|
35,9
|
|
Biasa saja
|
55
|
53,4
|
|
Tidak
|
10
|
9,7
|
Dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk
melihat hubungan antara perasaan tidak nyaman ketika pulang ibu tidak ada
dirumah dengan kenakalan remaja diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar
0,136. Ini
menunjukan hubungan pengaruh yang lemah terhapat kenakalan remaja, yang berarti
terdapat sedikit pengaruh terhadap keduanya. Dengan maksud semakin tidak adanya
perasaan mengharapkan ibu dirumah maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja.
Tetapi hipotesa ini ditolak karena nilai a yang diperoleh lebih
besar dari 0,05 yaitu 0,106.
Pentingnya Disiplin Bagi Ibu
Disiplin merupakan merupakan salah
satu faktor penting berhasil atau tidaknya pendidikan, baik itu pendidikan yang
diperoleh dari rumah ataupun didalam keluarga. Disiplin yang diterapkan dengan
baik tanpa adanya dibumbui dengan kekerasan akan mendatangkan dampak baik bagi
kehidupan anak kelak. Dengan
membandingkan kedua table dibawah dapat dilihat untuk tingkat penting
dan sangat penting untuk ibu bekerja dan ibu tidak bekerja memiliki persentase
tingkat kepentingan yang sama ini berarti kedisiplinan sudah merupakan bagian
yang penting dalam mendidik anak.
Tabel 5.19 Pentingnya disiplin
bagi ibu untuk ibu bekerja
|
Tingkat Kepentingan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Kurang Penting
|
5
|
3,8
|
|
Penting
|
69
|
52,3
|
|
Sangat Penting
|
58
|
43,9
|
Tabel 5.20 Pentingnya disiplin
bagi ibu Untuk ibu tidak bekerja
|
Tingkat Kepentingan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak Penting
|
2
|
1,9
|
|
Kurang Penting
|
3
|
2,9
|
|
Penting
|
50
|
48,5
|
|
Sangat Penting
|
48
|
48,6
|
Dari hasil analisa korelasi
didapati nilai koefisien korelasi sebesar -0,025 ini menunjukkan nilai korelsai
yang sangat kecil yang sudah mendekati nilai nol. Ini berarti kepentingan ibu terhadap kesiplinan kurang
memberikan pengaruh yang tidak langsung
terhadap kenakalan remaja. Tetapi hipotesa ini ditolak karena nilai a yang diperoleh lebih besar dari 0,05 yaitu 0,763.
Kepedulian
Ibu dengan Siapa Anaknya Berteman
Tabel 5.21 Tingkat kepedulian ibu
dengan siapa anaknya berteman untuk ibu bekerja
|
Tingkat Kepedulian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak Peduli
|
2
|
1,9
|
|
Kurang Peduli
|
3
|
2,9
|
|
Peduli
|
50
|
48,5
|
|
Sangat Peduli
|
48
|
48,6
|
Tabel 5.22 Tingkat kepedulian ibu dengan siapa anaknya berteman untuk ibu
tidak bekerja
|
Tingkat Kepedulian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak Peduli
|
2
|
1,9
|
|
Kurang Peduli
|
5
|
4,9
|
|
Peduli
|
47
|
45,6
|
|
Sangat Peduli
|
49
|
47,6
|
Mengetahui dengan siapa anak
berteman dapat menghindarkan remaja bergaul dengan teman-teman yang memiliki
prilaku yang tidak baik. Dan dapat menghindarkan anak untuk masuk kelingkungan
sosial yang kurang baik sejak dini sebelum ia terlibat lebih jauh kedalam
lingkungan tersebut. Dari kedua tabel dibawah ini kita dapat melihat untuk
tingkat peduli dan sangat peduli untuk ibu bekerja dan ibu tidak bekerja
memiliki persentase yang hampir sama besar yaitu berada diatas nilai 90%. Hal
ini sudah merupakan ini nilai yang sangat baik, yang menunjukkan seorang ini
sangat memperhatikan pergaulan anak-anaknya.
Dari analisa korelasi yang telah
dilakukan dengan SPSS dapat dilihat bahwa Kepedulian ibu terhadap dengan siapa
remaja bergaul diperoleh nilai koefisien korelasi negative terhadap kenakalan
remaja yaitu dengan nilai -0,240. nilai ini menunjukkan hubungan korelasi yang
lemah antara keduanya. Ini berarti semakin peduli seorang ibu terhadap
pergaulan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan remaja, dan sebalikkan
semakin tidak peduli seorang ini terhadap pergaulan anaknya maka semakin
nakallah anak tersebut. Hipotesa ini dapat diterima karena memiliki nilai a lebih kecil dari nilai
0,05 yaitu 0,004.
Adanya
perasaan anak tidak nyaman ketika ia pulang kerumah mendapati ibunya tidak
berada dirumah menunjukkan suatu hubungan kedekatan yang baik antara anak dan
ibunya. Seorang anak selalu mengharapkan ketika ia pulang kerumah dapat bertemu
ibunya untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang diharapkan
didapatkannya didalam rumah. Tetapi bila anak pulang kerumah yang selalu didapatinya
adalah rumah selalu dalam keadaan sepi, keadaan ini dapat membuat anak mencari
pelarian kepergaulan yang kurang baik untuk melampiaskan perasaannya. Lambat
laun perasaan tidak nyaman itu akan hilang karena keberadaan ibu sudah tidak
lagi diharapkan karena dapat digantikan oleh teman-teman dan pergaulannya. Dari
kedua tabel dibawah dapat dilihat bahwa 43,2% remaja dengan ibu bekerja
memiliki perasaan tidak nyaman karena ibunya selalu tidak berada dirumah. Hal
ini perlu menjadi perhatian bagi ibu bekerja bagaimana seorang ibu dapat
mensiasati agar ibu dapat lebih dulu pulang kerumah disore hari dari pada
anggota keluarga yang lain.
Perhatian Ibu Ketika Anak Belajar
Dirumah
Tabel 3.23 Perhatian yang diberikan ibu ketika anak
belajar di rumah untuk ibu bekerja
|
Tingkat Perhatian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak Ada
|
4
|
3,0
|
|
Kdang-kadang
|
73
|
55,3
|
|
Selalu
|
54
|
40,9
|
Tabel 3.24 Perhatian yang diberikan ibu ketika anak
belajar di rumah untuk ibu tidak bekerja
|
Tingkat Perhatian
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak Ada
|
4
|
3,9
|
|
Kadang-kadang
|
66
|
64,1
|
|
Selalu
|
31
|
30,1
|
Memberikan perhatian ketika anak
belajar dirumahnya menunjukkan pentingnya keberhasilan pendidikan anak bagi
seorang ibu atau menunjukkan dukungan terhadap kemajuan pendidikan. Sehingga
dapat mendatangkan motivasi bagi anak. Karena dukungan yang datang dari seorang
ibu dapat mendatangkan motivasi yang berarti bagi kemajuan pendidikannya. Dari
tabel 3.23 dan tabel 3.24 dapat kita lihat bahwa ibu bekerja lebih menunjukkan
perhatian ketika anak belajar dirumah dibanding ibu yang tidak bekerja dengan
perbedaan 10%. Ini menunjukkan bahwa ibu bekerja lebih memberikan perhatian
terhadap kemajuan pendidikan anaknya dibandingkan dengan ibu bekerja.
Dan dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk
melihat hubungan antara perhatian yang diberikan ibu ketika anak belajar
dirumah dengan kenakalan remaja menunjukkan koefisien korelasi negatif yaitu
-0,255. Ini berarti bahwa semakin besar perhatian yang diberikan seorang ibu
terhadap anak ketika ia belajar dirumah maka semakin kecil tingkat kenakalan
remaja dan sebaliknya, semakin tidak ada perhatian yang ditunjukkan seorang ibu
ketika anak belajar dirumah maka semakin besar tingkat kenakan remaja. Dan
hipotesa ini dapat diterima karena memberikan nilai a yang lebih kecil dari nilai 0,05 yaitu 0,002.
Kenakalan
yang Dilakukan Remaja
Kenakalan remaja semakin marak
dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada penelitian ini peneliti ingin melihat
perbedaan persentase remaja yang menyatakan terlibat dengan kenakalan remaja
dibanding dan yang tidak terlibat dengan membandingkan antara ibu yang bekerja
dengan yang tidak bekerja. Dari kedua tabel dibawah ini dapat dilihat bahwa
persentase remaja yang terlibat dengan kenakalan remaja adalah 64,4% untuk
ibunya yang bekerja dan 67% untuk ibunya yang tidak bekerja. Hal ini
menunjukkan bahwa keduanya hampir memiliki persentase yang hampir sama besar.
Hal ini dapat membuktikan bahwa ibu bekerja tidak merupakan salah faktor
penyebab kenakalan remaja. Hal ini juga dibenarkan oleh AKP Murniati SH. Yang
bertugas di Sat Reskrim Polda SUMUT berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh
peneliti yang menyatakan ibu berkerja bukan merupakan salah satu faktor
penyebab kenakalan remaja. Hal yang serupa juga dinyatakan oleh Bapak pendeta
Pdt Johanes Ginting, Sth. Dari Yayasan Persekutan Doa Matius 5 Panti
Rehabilitasi Gangguan Jiwa dan Narkoba Jalan Petunia Lingk III Kelurahan Namo
Gajah No. 18 Kecamatan Medan Tuntungan, anak yang terlibat dengan narkoba
sebahagian besar penyebabnya adalah kurang dekatnya hubungan emosi antara ibu
dan anak. Sehingga anak terjerumus pada pergaulan yang kurang baik.
Tabel 3.25 Kenakalan remaja untuk
ibu bekerja
|
Remaja Yang Melakukan Kenakalan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak
|
14
|
3,9
|
|
Ya
|
85
|
64,1
|
Tabel 3.26 Kenakalan remaja untuk ibu tidak bekerja
|
Remaja Yang Melakukan Kenakalan
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Tidak
|
33
|
32,0
|
|
Ya
|
69
|
67,0
|
Alasan Anak
yang Menyebabkannya Melakukan Kenakalan
Dari beberapa alasan remaja
mengapa mereka terlibat dalam kenakalan remaja yang berhasil dikumpulkan dari
154 remaja yang memiliki ibu bekerja dan yang tidak bekerja dapat dilihat untuk
ibu bekerja remaja menyatakan karena mengikuti teman merupakan alasan yang
dominan yang dinyatakan oleh remaja dan untuk ibu yang tidak bekerja alasan
yang paling dominan dinyatakan mengapa mereka terlibat dengan kenakalan remaja
adalah juga karena mengikuti teman. Dari kedua klasifikasi tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa teman atau lingkungan pergaulan merupakan faktor
penyebab bagi kenakalan remaja. Dengan mengetahui ini maka seorang ibu baik ibu
yang bekerja maupun ibu yang bekerja harus lebih memperhatikan pergaulan dan
kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Dengan dapat menjadi teman yang baik
bagi anak dan menjalin komukasi yang baik dengan anak dapat menghindarkan
remaja dari melakukan hal-hal yang tidak baik. Pernyataan ini juga dibenarkan
oleh AKP Murniati SH dan Bapak Pdt Johanes Ginting, Sth. Dari Yayasan
Persekutan Doa Matius 5 keduanya menyatakan bahwa lingkungan pergaulan
merupakan penyebab kenakalan dikalangan remaja.
Tabel 3.27 Alasan anak yang
menyebabkannya melakukan kenakalan untuk ibu bekerja
|
Alasan remaja
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Karena Mengikuti Teman
|
31
|
23,5
|
|
Biar Keren
|
2
|
1,5
|
|
Lagi Trend
|
2
|
1,5
|
|
Menarik Perhatian Orang Tua
|
3
|
2,3
|
|
Melampiaskan Perasaan
|
14
|
10,6
|
|
Iseng Saja
|
13
|
9,8
|
|
Untuk Pergaulan
|
3
|
2,3
|
|
Tidak Dapat Dihindari
|
6
|
4,5
|
|
Hal yang Biasa
|
13
|
9,8
|
Tabel 3.28 Alasan anak yang
menyebabkannya melakukan kenakalan untuk ibu tidak bekerja
|
Alasan remaja
|
Frekwensi
|
Persen
|
|
Karena Mengikuti Teman
|
27
|
23,5
|
|
Lagi Trend
|
1
|
1,5
|
|
Menarik Perhatian Orang Tua
|
1
|
2,3
|
|
Melampiaskan Perasaan
|
13
|
10,6
|
|
Iseng Saja
|
8
|
9,8
|
|
Untuk Pergaulan
|
7
|
2,3
|
|
Tidak Dapat Dihindari
|
3
|
4,5
|
|
Hal yang Biasa
|
6
|
9,8
|
5. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dengan menggunakan metode analisa deskriptif dan analisa yang telah dijalankan untuk
melihat gambaran pengaruh wanita karier terhadap peningkatan kenakalan
dikalangan remaja dapat disimpulkan:
1.Hipotesa yang menyatakan wanita karier merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi peningkatan kenakalan dikalangan remaja ditolak.
2.Dari analisa korelasi dapat diketahui semakin perhatian
seorang ibu dengan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan yang dilakukan
remaja.
3.Dari analisa korelasi diketahui semakin besar perhatian
seorang ibu terhadap pendidikan anaknya maka semakin kecil tingkat kenakalan
remaja.
4.Dari analisa korelasi diketahui bahwa semakin ibu
mengetahui kegiatan yang dilakukan remaja maka semakin kecil tingkat kenakalan
remaja.
5.Dari analisa korelasi menunjukkan semakin sering ibu
memberikan motivasi dan nasehat kepada anaknya maka semakin rendah tingkat
kenakalan remaja
6.Dari analisa korelasi diketahui semakin peduli seorang
ibu terhadap pergaulan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan remaja.
7.Dari analisa korelasi dapat dilihat bahwa semakin besar perhatian
yang diberikan seorang ibu terhadap anak ketika ia belajar dirumah maka semakin
kecil tingkat kenakalan remaja.
8.Persentase remaja yang terlibat dengan kenakalan remaja
adalah 64,4% untuk ibunya yang bekerja dan 67% untuk ibunya yang tidak bekerja.
Hal ini dapat membuktikan bahwa ibu bekerja tidak merupakan salah faktor
penyebab kenakalan remaja.
DAFTAR PUSTAKA
Ana, Yulia,
2007. Working Mom & Kids. Elex
Media Komputindo.
Blau, Francine., and Marianne A. Ferber.
1992. The Economics of Women, Men, and
Work, Second
Edition. Prentice Hall, Englewood,
New Jersey.
Budiman, Arief. 1982. Pembagian Kerja Secara Seksual.PT
Gramedia, Jakarta.
Darmastuti,
Ari dan Ikram, 1997. Konsep dan Implikasi
Jender. Seri Monografi
Lembaga Penelitian Universitas Lampung. Nomor 6, Juni 1997.
Farid, Ma’ruf. 2007. Kemuliaan Ibu dan Peningkatan Kualitasnya.
Rumahku Surgaku. http://web.wordpress.com/html.
Jhon Gotham, PhD & Joan De Claire,
1997. Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang
Memiliki Kecerdasan Emosional. Gramedia Pustaka Utama.
Ninik, M. Handayani.
2003. Ibu Bekerja & Dampak pada Perkembangan Anak. Berita Hot.
http://www.blogger.com/css/navbar/classic/css
Nugroho,
Bhuono Agung. 2007. Strategi Jitu Memilih Metode
Statistik Penelitian dengan SPSS. Andi.
Roger W,
Mclntire, 200. 5. Teenagers and Parent.
10 Langkah Menciptakan Hubungan yang Lebih Baik. Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar