Rabu, 11 Januari 2012

PENGARUH WANITA KARIER TERHADAP PENINGKATAN KENAKALAN DI KALANGAN REMAJA


PENGARUH WANITA KARIER TERHADAP PENINGKATAN KENAKALAN DI KALANGAN REMAJA

Silvi Ariyanti

1)Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Islam Sumatera Utara,
Jl. Sisingamagarara, Teladan, Medan, Indonesia


ABSTRAK

Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga, yang akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibu pun ikut bekerja. Semakin aktif perempuan menjalankan posisinya diluar rumah maka akan semakin berkurang perhatian, pemikiran dan pelaksanaan tugasnya didalam rumah. Hal ini yang dapat membawa dampak yang kurang baik bagi jiwa serta pendidikan anak-anak. Rumusan masalah dalam kajian ini adalah untuk mengetahui dan membuktikan apakah ibu bekerja merupakan salah satu faktor penyebab kenakal dikalangan remaja. Metode penelitian yang dijalankan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan menggunakan metode survei dengan menyebarkan quisioner dan wawancara langsung kepada 250 orang remaja yang ibunya bekerja dan yang tidak bekerja dibeberapa sekolah SMA negri dan swasta, tinjauan langsung ke Balai Rehabilitasi Narkoba yang terdapat di Kota Medan. Analisa data yang dilakukan dalam kajian ini statistik yaitu analisa deskriptif dan korelasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: hipotesa yang menyatakan wanita karier merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan kenakalan dikalangan remaja ditolak karena tidak signifikan, perhatian ibu, perhatian ibu terhadap mendidikan anak, komunikasi yang baik antara ibu dan remaja, kegiatan remaja yang diketahui ibunya, seringnya ibu memberikan motivasi dan nasehat kepada anaknya, mengetahui dengan siapa anak berteman, dan menunjukkan perhatian ketika anak belajar dirumah dapat memberikan pengaruh terhadap kenakalan remaja.

Kata Kunci: Ibu bekerja, Ibu tidak bekerja, Kenakalan remaja


1.      Pendahuluan

Meningkatnya gejala kenakalan dikalangan remaja saat ini antara lain dikarenakan semakin kompleksnya masalah kehidupan. Hal ini akan menimbulkan kelonggaran-kelonggaran komunikasi didalam keluarga. Spikolog banyak menemukan bahwa keluarga yang retak adalah penyebab dari bermacam-macam tingkah laku anti sosial misalnya, kenakalan remaja, kecanduan obat dan alkoholik, sama halnya dengan bunuh diri. Kurangnya kasih sayang dan dukungan dari orang tua. Seorang anak yang tumbuh dari perasaan tidak dicintai dan tidak dikehendaki oleh orang tuanya akan mengakibatkan anak menjadi frustasi, marah dan mengalami depresi.

                        Perumusan Masalah

Dengan semakin meningkatnya kejahatan remaja akhir-akhir ini tak lepas dari pengaruh kurangnya perhatian dan kasih sayang seorang ibu. Perhatian dan kasih sayang ibu yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak kini harus berbagi dengan konsentrasi ibu dalam menjalankan perannya berkarir diluar rumah. Dengan melihat fenomena yang telah dipaparkan diatas, maka penelitian ini dijalankan untuk membuktikan apakah ibu bekerja merupakan salah satu faktor penyebab kenakal dikalangan remaja.

2.      Landasan Teori

Peranan Ibu Bagi Anaknya (Farid Ma’ruf, 2007)
            Seorang ibu mempunyai peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anaknya, sosok pertama pula yang memberikan rasa aman dan nyaman serta sosok yang dia percaya. Karena itu, ibu menjadi sekolah petama bagi anak-anaknya. Peran ibu dalam mendidik anaknya ini sangat penting karena dapat menentukan kualitas generasi masa depan suatu masyarakat dan negara. Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa ibu ibarat tiang negara. Tinggi rendahnya moralitas suatu bangsa dapat dilihat dari tinggi rendahnya moralitas para ibu dinegara itu atau sejauh mana kepedulian para ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Mengapa Wanita Berkarir
Ada beberapa alasan yang melatar belakangi mengapa seorang ibu bekerja (Anna, 2007):
A.     Tuntutan hidup
Ada beberapa wanita bekerja bukan karena ingin bekerja tetapi lebih karena tuntutan hidup.
B.     Pendapatan tambahan untuk keleluasaan financial
Peran ibu untuk mencari ini bukan hanya berlaku bagi mereka yang kelas ekonominya rendah. Beberapa wanita karier di Jakarta yang suaminya sudah cukup mapan untuk menghidupkan keluarga mengatakan bahwa kalau mengandalkan gaji suami saja cukup tapi kita kan ingin lebih.
C.     Aktualisasi diri dan prestise
Wanita telah bersusah payah untuk sekolah dan mengejar ilmu bersaing dengan teman-teman putra mereka. Mereka pasti ingin melakukan sesuatu dalam dunia kerja, baik karena ingin dan harus mandiri dalam segi financial maupun karena mereka tertantang untuk mengamalkan ilmunya dan berperan dalam masyarakat.
D.     Pengembangan bakat menjadi komersil
Banyak juga ibu rumah tangga yang menjadi pengusaha atau tokoh terkenal bukan karena mereka mengejar karier tetapi karena dengan sendirinya mereka berkembang oleh bakat yang dimilikinya.
E.     Kejenuhan di rumah
Ada juga para ibu yang rela meninggalkan anak-anak di rumah bukan karena desakan ekonomi dan bukan pula karena desakan batin untuk mengaktualisasikan dirinya.

Dampak keputusan berkarier
            Jika seorang ibu memutuskan untuk berkarier dan menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain, ada konsekuensi atau dampak yang mau tidak mau akan mengikutinya, kecuali jika anda dapat meminimalisasi atau mengantisipasinya.
A.     Melemahnya Ikatan Emosi dengan Anak
Tak dapat disangkal lagi bahwa waktu yang seorang ibu bekerja habiskan diluar rumah dan jauh dari anak berdampak pada kuat lemahnya ikatan emosi anak dengan Anda. Saat anak menangis dan membutuhkan belaian, si baby-sitter-lah yang ada di sampingnya.

B.     Anak Menjadi Korban
Jika seorang ibu tidak jeli, anak-anak bisa menjadi korban pelecehan pembantu baik pelecehan secara fisik ataupun secara mental.
C.     Kurangnya Daya Juang Anak
Bila anak diasuh oleh neneknya, seorang nenek pada umumnya lebih suka mencurahkan kasih sayang yang bahkan berlebihan,sangat berbeda di bandingkan saat dia mengasuh anaknya dahulu.
D.     Perkembangan Mental anak yang tidak sesuai standar anda
Meninggalkan anak dalam asuhan orang lain tentunya membentuk pola asuh yang tidak sesuai dengan standar kita karena tiap orang punya gaya dan keyakinan masing-masing.

 

3.      Metode Penelitian


Data dikumpulkan dengan menggunakan metode survey dengan menggunakan quisioner dan melakukan wawancara langsung kepada siswa-siswi SMA negri dan swasta yang tersebar di kota Medan. Wawancara ini dilakukan terhadap 250 siswa-siswi SMA yang diambil secara acak. Dari 250 orang siswa/siswa yang ditemui yang berhasil diwawancara adalah 235 orang dan 15 orang respondent sangat tertutup terdapat banyak pertanyaan yang tidak bersedia dijawab sehingga datanya dianggap tidak valid.
Analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisa statistik yang terdiri dari deskriptif (Analisa frekwensi) dan korelasi linear. Metode deskriptif dilakukan untuk menghitung frekuensi pendapat-pendapat remaja yang diklasifikasikan pada dua bahagian yaitu ibu berkerja dan ibu yang tidak bekerja. Korelasi Pearson digunakan dalam analisa pada penelitian ini. Kerana hubungan korelasi yang ingin dilihat adalah hubungan antara pasangan variabel independent (X) dan variabel dependent (Y) (Nazir, 1983). Pada analisis ini yang menjadi variabel independent ialah latar belakang remaja, hubungan dengan ibu dan perhatian ibu terhadap pergaulan dan pendidikan remaja. Sementara variabel independent adalah tingkat kenakalan remaja.

4.      Analisa dan Pembahasan

Jumlah responden remaja terdiri dari 235 orang siswa-siswi SMA yang tersebar dikota medan. Dari gambar dapat dilihat bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki terdiri dari 200 orang dan responden yang berjenis kelamin perempuan terdiri dari 35 orang.
Persentase responden yang memiliki ibu bekerja terdiri dari 55,9 % atau 132dan ibu yang tidak bekerja terdiri dari 44,1% atau 103 orang. Data ini menunjukkan persentase ibu berkerja lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Berdasarkan peningkatan ibu bekerja dikalangan masyarakat menimbulkan pemikiran bagi kami peneliti apakah ibu bekerja merupakan salah satu faktor penyebab peningkatan kenakalan dikalangan remaja. Berdasarkan analisa data yang dilakukan dari 132 orang ibu bekerja responden yang menyatakan dirinya pernah terlibat dalam kenakalan remaja adalah 85 orang atau 64,4%. Dan dari 103 ibu yang tidak bekerja yang memiliki anak remaja yang menjadi responden yang menyatakan dirinya pernah terlibat dengan kenakalan remaja adalah sebesar 70 orang 68%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase remaja yang terlibat dengan kenakalan remaja oleh remaja yang ibunya bekerja dan yang tidak bekerja menunjukkan nilai yang hampir sama besar. Dan berdasarkan analisa korelasi menunjukkan nilai korelasi -0,029 dengan nilai a sebesar 0,660. Ini merupakan nilai yang sangat kecil yang dapat dinyatakan dengan tidak adanya hubungan antara ibu bekerja dan kenakalan remaja atau ibu bekerja bukan merupakan faktor penyebab kenakalan remaja, tetapi nilai ini tidak signifikan karena nilai a lebih besar dari dari 0,05.

Tingkat Kedekatan Antara Ibu dan Anak
Tabel 4.1 Tingkat kedekatan antara ibu dan anak untuk ibu bekerja
Tingkat Kedekatan
Frekwensi
Persen
Tidak dekat
1
8
Kurang dekat
15
11,4
Dekat
52
39,4
Sangat dekat
64
48,5
Tabel 4.2 Tingkat kedekatan antara ibu dan anak untuk ibu tidak bekerja
Tingkat Kedekatan
Frekwensi
Persen
Tidak dekat
1
1,0
Kurang dekat
7
6,8
Dekat
37
35,9
Sangat dekat
58
56,3
Dari kedua tabel diatas yaitu dapat kita lihat perbandingan antara tingkat kedekatan anak dengan ibunya antara ibu yang bekerja dan ibu yang bekerja menunjukkan persentase untuk tingkat tidak dekat dan kurang untuk ibu bekerja menunjukkan angka yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.
Dan dari hasil perhitungan korelasi antara ibu bekerja dengan remaja yang menyatakan terlibat dengan kenalan remaja menunjukkan nilai -0,133 dengan nilai a = 0,042. hal ini menunjukkan bahwa hubungan korelasi antara tingkat kedekatan anak dan ibunya dengan kenakalan remaja memiliki hubungan negatif yang lemah hal ini berarti semakin dekat seorang anak dengan ibunya maka semakin anak tidak terlibat dengan kenakalan remaja. Maka diharapkan seorang ibu bekerja walau sesibuk apapun kegiatannya diluar rumah membina hubungan yang baik dengan anak merupakan hal yang sangat penting.

Perhatian Ibu Terhadap Remaja
Dari kedua tabel dibawah dapat dilihat bahwa tingkat perhatian terhadap anak antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja untuk tingkat perhatian dan sangat perhatian ibu tidak bekerja memiliki frekwensi yang sedikit lebih besar dibanding ibu bekerja.
Tabel 4.3 Persentase perhatian ibu dengan anaknya untuk ibu bekerja
Tingkat Perhatian
Frekwensi
Persen
Tidak ada perhatian
1
8
Kurang perhatian
4
3
Perhatian
50
37,9
Sangat perhatian
77
58,3
Tabel 4.4 Persentase perhatian ibu dengan anaknya untuk ibu tidak bekerja
Tingkat Perhatian
Frekwensi
Persen
Tidak ada perhatian
1
1
Perhatian
30
29,1
Sangat perhatian
72
69,9
Dan untuk hubungan korelasi antara perhatian ibu dengan keterlibatan remaja dengan dengan kenakalan remaja menunjukkan nilai -0,169 dengan nilai a = 0,043. Hal ini berarti hubungan korelasi antara perhatian ibu dan kenakalan remaja menunjukkan hubungan negatif yang lemah dengan maksud semakin perhatian seorang ibu dengan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan yang dilakukan remaja atau sebaliknya semakin tidak perhatian seorang ibu dengan anaknya maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja.

Tingkat Keberadaan Ibu Ketika Anak Membutuhkan.
            Seorang anak selalu membutuhkan seorang ibu untuk tempatnya mengadu atau pun berbagi cerita tentang kebahagiaan yang dialami. Karena hubungan ibu dengan anak sudah terbina ketika seorang anak masih berada didalam rahimnya, kemudian ketergantungan anak kepada ibunya ketika anak masih menyusu pada ibunya.
Dari kedua tabel diatas yaitu tabel dapat dilihat bahwa ketidak beradaan seorang ibu disaat anak membutuhkan menunjukkan perbedaan nilai yang sangat kecil antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Dan dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk hubungan antara keberadaan ibu ketika anak membutuhkan dengan kenakalan remaja menunjukkan nilai -0,136 dengan nilai a = 0,104. Ini berarti nilai korelasi memiliki hubungan yang sangat lemah dan nilai ini tidak signifikan karena nilai a yang diperoleh lebih besar dari 0,05.
4.5 Tingkat keberadaan ibu ketika anak membutuhkan untuk ibu bekerja
Tingkat Keberadaan
Frekwensi
Persen
Tidak pernah ada  
2
1,5
jarang
25
18,9
Selalu ada
105
79,5
4.6 Tingkat keberadaan ibu ketikan anak membutuhkan untuk ibu tidak bekerja
Tingkat Keberadaan
Frekwensi
Persen
Tidak pernah ada  
2
1,9
jarang
17
16,5
Selalu ada
84
81,6

Besar Perhatian Ibu Terhadap Pendidikan Anak
            Perhatian dari seorang ibu terhadap anaknya merupakan suatu dorongan yang berarti bagi keberhasilan pendidikan anak. Karena ibu merupakan guru pertama bagi seorang anak sejak dari anak dilahirkan. Perhatian dan nasehat yang selalu diberikan kepada anak akan memberi kesan yang baik bagi kehidupan seorang anak. Dari kedua tabel dibawah ini kita dapat melihat ibu bekerja memberikan perhatian terhadap pendidikan anaknya sedikit lebih besar dibanding dibanding ibu bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa sesibuk apa pun seorang ibu pasti akan selalu berusaha untuk memberikan perhatian terhadap pendidikan anak.
Tabel 4.7 Besarnya perhatian ibu terhadap mendidikan anak untuk ibu bekerja
Tingkat Perhatian
Frekwensi
Persen
Tidak ada perhatian 
1
8
Kurang perhatian
3
2,3
Perhatian
36
27,3
Sangat perhatian
92
69,7




Tabel 4.8 Besarnya perhatian ibu terhadap mendidikan anak untuk ibu tidak bekerja
Tingkat Perhatian
Frekwensi
Persen
Tidak ada perhatian 
2
1,9
Perhatian
36
35,0
Sangat perhatian
65
63,1
Dari hasil analisa korelasi didapati bahwa hubungan korelasi antara perhatian ibu terhadap mendidikan anak memiliki hubungan yang walaupun kecil terhadap kenakalan remaja dengan nilai korelasi sebasar -0,193. Ini berarti semakin besar perhatian seorang ibu terhadap pendidikan anaknya maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja dan sebaliknya semakin kurang perhatian yang ditunjukkan ibu terhadap pendidikan anaknya maka semakin tinggi tingkat kenalan remaja. Hipotesa ini dapat diterima karena nilai a yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,021.

Ibu Merupakan Teman Ngobrol yang Baik Bagi Remaja
Menjadi teman ngobrol yang baik bagi remaja merupakan suatu usaha yang dilakukan bagi orang tua untuk membantu perkembangan remaja. Karena komunikasi yang baik antara orang tua dengan remaja dapat menimbulkan hubungan yang harmonis antara keduanya sehingga dapat terbina persahabatan yang baik yang akan berlangsung seumur hidup. Menjadi sahabat yang baik bagi remaja dapat membantu orang tua untuk dapat mempersiapkan anaknya menjadi orang dewasa yang kompeten yang tidak terjerat dilingkungan sosial yang kurang baik.
Tabel 4.9 Teman ngobrol yang baik bagi remaja untuk ibu bekerja
Teman ngobrol yang baik
Frekwensi
Persen
Tidak
5
3,8
Biasa saja
62
47
Ya
131
48,9
Tabel 4.10 Teman ngobrol yang baik bagi remaja untuk ibu tidak bekerja
Teman ngobrol yang baik
Frekwensi
Persen
Tidak
6
5,8
Biasa saja
51
49,5
Ya
46
44,7
Dari kedua tabel diatas dapat dibandingkan pendapat remaja apakah ibunya merupakan teman ngobrol yang baik atau tidak. Dari kedua tabel dapat dapat kita libat bahwa pendapat remaja tentang ibu merupakan teman ngobrol yang baik untuk ibu bekerja menunjukkan persentase sedikit lebih besar dibandingkan dengan ibu tidak bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa bukan lamanya waktu yang menjadi pengaruh untuk menjalin komunikasi yang baik dengan remaja melain bagaimana cara komunikasi itu dilakukan.
Dari hasil analisa korelasi yang telah dilakukan hubungan antara ibu merupakan teman ngobrol yang baik bagi remaja dengan kenakalan remaja menunjukkan nilai -0,152. Hal ini merupakan hubungan negative yang lemah. Tetapi hipotesa ini ditolak karena nilai a yang diperoleh lebih besar dari 0,05 yaitu 0,071.

Kegiatan Anak yang Diketahui Ibu
Seorang ibu sebaiknya harus mengetahui kegiatan yang dilakukan anaknya agar dapat mengontrol dan memberikan arahan-arahan terhadap baik buruknya kegiatan yang dilakukan remaja. Dengan menjalin komunikasi yang baik seorang ibu dapat mengetahui apa saja kegiatan yang dilakukan anaknya. Selalu meluangkan waktu pada sore atau malam hari pada saat istirahat untuk berbagi cerita  tentang kegiatan yang telah dilalui pada hari tersebut merupakan suatu moment yang sangat baik bagi usaha-usaha orang tua untuk dapat membina kehidupan yang baik bagi anaknya, terutama remaja. Dari kedua tabel dibawah ini dapat dilihat bahwa untuk mengetahui seluruh kegiatan anaknya memiliki persentase dibawah 25%. Tetapi ibu tidak bekerja lebih mengetahui kegiatan yang dilakukan anaknya sedikit lebih besar dibanding ibu bekerja. Ini menunjukkan bahwa ibu yang tidak bekerja lebih memiliki waktu untuk memantau kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya.
Tabel 4.11 Kegiatan anak yang diketahui ibu untuk ibu bekerja
Kegiatan bersama anak yang ketahui ibu
Frekwensi
Persen
              Tidak
6
1,5
Sebagian saja
97
73,5
Tahu seluruhnya
29
22,0
Tabel 4.12 Kegiatan anak yang diketahui ibu untuk ibu tidak bekerja
Kegiatan bersama anak yang ketahui ibu
Frekwensi
Persen
              Tidak
1
1,0
Sebagian saja
77
74,8
Tahu seluruhnya
25
24,3
Dari analisa korelasi yang dilakukan untuk melihat pengaruh antara kegiatan remaja yang diketahui ibunya dengan tingkat kenakalan remaja menunjukan koefisien korelasi sebesar -0,181. Nilai ini menunjukkan nilai hubungan yang kecil. Ini berarti bahwa semakin ibu mengetahui kegiatan yang dilakukan remaja maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja atau sebaliknya semakin tidak tahu ibu terhadap kegiatan anaknya maka semakin nakallah seorang remaja. Dan hipotesa ini diterima karena nilai a yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,03.

Motivasi dan Nasehat yang Diberikan Ibu Kepada Anak
Motivasi dan nasehat yang selalu diberikan oleh seorang ibu banyak memberikan pengaruh bagi kehidupan anaknya. Karena nasehat dan motivasi yang selalu diberikan oleh ibunya merupakan panduan bagi anaknya dalam kehidupannya dimasa kini dan dimasa yang akan datang. Dari tabel dibawah dapat kita lihat ibu bekerja lebih sering memberikan motivasi dan nasehat kepada anak-anaknya dibanding ibu yang tidak bekerja. Hal ini menunjukkan ibu bekerja lebih membina waktu pertemuan dengan anaknya lebih berkualitas dibandingan dengan ibu bekerja.
Tabel 5.13 Motivasi dan Nasehat yang diberikan ibu untuk ibu bekerja
Motivasi yang diberikan ibu
Frekwensi
Persen
Tidak
1
8
Kadang-kadang
5
3,8
Sering
61
46,2
Sangat sering
65
49,2
Tabel 5.14 Motivasi dan Nasehat yang diberikan ibu untuk ibu tidak bekerja
Motivasi yang diberikan ibu
Frekwensi
Persen
Kadang-kadang
8
7,8
Sering
47
45,6
Sangat sering
48
46,6
            Dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk melihat hubungan antara seringnya ibu memberi nasehat dan motivasi kepada anaknya berhubungan dengan kenakalan remaja menunjukkan nilai koefisien korelasi negative yaitu 0,234. Hal ini berarti semakin sering ibu memberikan motivasi dan nasehat kepada anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan remaja atau sebaliknya semakin jarang ibu memberikan nasehat kepada anaknya maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja. Dan hipotesa ini dapat diterima karena nilai a yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,005.
Dan tanggapan remaja atas motivasi dan nasehat yang diberikan kepada anaknya untuk ibu bekerja remaja lebih mendengarkan nasehat ibunya dibanding dengan remaja yang memiliki ibu yang tidak bekerja seperti yang ditunjukkan pada kedua tabel dibawah ini.
Tabel 5.15 Tanggapan remaja atas motivasi dan nasehat yang diberikan untuk ibu bekerja
Tanggapan remaja
Frekwensi
Persen
Bosan
2
1,5
Biasa saja
42
31,8
Selalu saya dengarkan
88
66,7
Tabel 5.16 Tanggapan remaja atas motivasi dan nasehat yang diberikan untuk ibu tidak bekerja
Tanggapan remaja
Frekwensi
Persen
Biasa saja
29
28,2
Selalu saya dengarkan
74
71,8
Dan dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk melihat hubungan antara selalu mendengar nasehat dan motivasi yang diberikan ibunya dengan tingkat kenakalan remaja menunjukkan nilai negatif yaitu -0,196 ini berarti semakin di dengarkan nasehat dan motivasi yang diberikan oleh seorang ibu maka semakin rendah tingkat kenakalan remaja demikian sebaliknya semakin jarang ibu memberikan nasehat dan motivasi terhadap anaknya maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja. Dan hipotesa ini dapat diterima karena memiliki nilai a lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,019.

Anak Merasa Tidak Nyaman Ketika Pulang Ibu Tidak Berada Dirumah
            Adanya perasaan anak tidak nyaman ketika ia pulang kerumah mendapati ibunya tidak berada dirumah menunjukkan suatu hubungan kedekatan yang baik antara anak dan ibunya. Seorang anak selalu mengharapkan ketika ia pulang kerumah dapat bertemu ibunya untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang diharapkan didapatkannya didalam rumah. Tetapi bila anak pulang kerumah yang selalu didapatinya adalah rumah selalu dalam keadaan sepi, keadaan ini dapat membuat anak mencari pelarian kepergaulan yang kurang baik untuk melampiaskan perasaannya. Lambat laun perasaan tidak nyaman itu akan hilang karena keberadaan ibu sudah tidak lagi diharapkan karena dapat digantikan oleh teman-teman dan pergaulannya. Dari tabel kedua tabel dibawah ini dapat dilihat bahwa 43,2% remaja dengan ibu bekerja memiliki perasaan tidak nyaman karena ibunya selalu tidak berada dirumah.

Tabel 5.17 Anak merasa tidak nyaman ketika pulang ibu tidak berada di rumah untuk ibu bekerja
Tanggapan remaja
Frekwensi
Persen
Ya
57
43,2
Biasa saja
63
47,7
Tidak
12
9,1
Tabel 5.18 Anak merasa tidak nyaman ketika pulang ibu tidak berada di rumah untuk ibu tidak bekerja
Tanggapan remaja
Frekwensi
Persen
Ya
37
35,9
Biasa saja
55
53,4
Tidak
10
9,7
Dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk melihat hubungan antara perasaan tidak nyaman ketika pulang ibu tidak ada dirumah dengan kenakalan remaja diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,136. Ini menunjukan hubungan pengaruh yang lemah terhapat kenakalan remaja, yang berarti terdapat sedikit pengaruh terhadap keduanya. Dengan maksud semakin tidak adanya perasaan mengharapkan ibu dirumah maka semakin tinggi tingkat kenakalan remaja. Tetapi hipotesa ini ditolak karena nilai a yang diperoleh lebih besar dari 0,05 yaitu 0,106.
Pentingnya Disiplin Bagi Ibu
            Disiplin merupakan merupakan salah satu faktor penting berhasil atau tidaknya pendidikan, baik itu pendidikan yang diperoleh dari rumah ataupun didalam keluarga. Disiplin yang diterapkan dengan baik tanpa adanya dibumbui dengan kekerasan akan mendatangkan dampak baik bagi kehidupan anak kelak. Dengan  membandingkan kedua table dibawah dapat dilihat untuk tingkat penting dan sangat penting untuk ibu bekerja dan ibu tidak bekerja memiliki persentase tingkat kepentingan yang sama ini berarti kedisiplinan sudah merupakan bagian yang penting dalam mendidik anak.
Tabel 5.19 Pentingnya disiplin bagi ibu untuk ibu bekerja
Tingkat Kepentingan
Frekwensi
Persen
Kurang Penting
5
3,8
Penting
69
52,3
Sangat Penting
58
43,9
Tabel 5.20 Pentingnya disiplin bagi ibu Untuk ibu tidak bekerja
Tingkat Kepentingan
Frekwensi
Persen
Tidak Penting
2
1,9
Kurang Penting
3
2,9
Penting
50
48,5
Sangat Penting
48
48,6
Dari hasil analisa korelasi didapati nilai koefisien korelasi sebesar -0,025 ini menunjukkan nilai korelsai yang sangat kecil yang sudah mendekati nilai nol. Ini berarti kepentingan ibu terhadap kesiplinan kurang memberikan pengaruh yang tidak langsung   terhadap kenakalan remaja. Tetapi hipotesa ini ditolak karena nilai a yang diperoleh lebih besar dari 0,05 yaitu 0,763.

Kepedulian Ibu dengan Siapa Anaknya Berteman
Tabel 5.21 Tingkat kepedulian ibu dengan siapa anaknya berteman untuk ibu bekerja
Tingkat Kepedulian
Frekwensi
Persen
Tidak Peduli
2
1,9
Kurang Peduli
3
2,9
Peduli
50
48,5
Sangat Peduli
48
48,6
Tabel 5.22 Tingkat kepedulian ibu dengan siapa anaknya berteman untuk ibu tidak bekerja
Tingkat Kepedulian
Frekwensi
Persen
Tidak Peduli
2
1,9
Kurang Peduli
5
4,9
Peduli
47
45,6
Sangat Peduli
49
47,6
Mengetahui dengan siapa anak berteman dapat menghindarkan remaja bergaul dengan teman-teman yang memiliki prilaku yang tidak baik. Dan dapat menghindarkan anak untuk masuk kelingkungan sosial yang kurang baik sejak dini sebelum ia terlibat lebih jauh kedalam lingkungan tersebut. Dari kedua tabel dibawah ini kita dapat melihat untuk tingkat peduli dan sangat peduli untuk ibu bekerja dan ibu tidak bekerja memiliki persentase yang hampir sama besar yaitu berada diatas nilai 90%. Hal ini sudah merupakan ini nilai yang sangat baik, yang menunjukkan seorang ini sangat memperhatikan pergaulan anak-anaknya.
Dari analisa korelasi yang telah dilakukan dengan SPSS dapat dilihat bahwa Kepedulian ibu terhadap dengan siapa remaja bergaul diperoleh nilai koefisien korelasi negative terhadap kenakalan remaja yaitu dengan nilai -0,240. nilai ini menunjukkan hubungan korelasi yang lemah antara keduanya. Ini berarti semakin peduli seorang ibu terhadap pergaulan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan remaja, dan sebalikkan semakin tidak peduli seorang ini terhadap pergaulan anaknya maka semakin nakallah anak tersebut. Hipotesa ini dapat diterima karena memiliki nilai a lebih kecil dari nilai 0,05 yaitu 0,004.
            Adanya perasaan anak tidak nyaman ketika ia pulang kerumah mendapati ibunya tidak berada dirumah menunjukkan suatu hubungan kedekatan yang baik antara anak dan ibunya. Seorang anak selalu mengharapkan ketika ia pulang kerumah dapat bertemu ibunya untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang diharapkan didapatkannya didalam rumah. Tetapi bila anak pulang kerumah yang selalu didapatinya adalah rumah selalu dalam keadaan sepi, keadaan ini dapat membuat anak mencari pelarian kepergaulan yang kurang baik untuk melampiaskan perasaannya. Lambat laun perasaan tidak nyaman itu akan hilang karena keberadaan ibu sudah tidak lagi diharapkan karena dapat digantikan oleh teman-teman dan pergaulannya. Dari kedua tabel dibawah dapat dilihat bahwa 43,2% remaja dengan ibu bekerja memiliki perasaan tidak nyaman karena ibunya selalu tidak berada dirumah. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi ibu bekerja bagaimana seorang ibu dapat mensiasati agar ibu dapat lebih dulu pulang kerumah disore hari dari pada anggota keluarga yang lain.

Perhatian Ibu Ketika Anak Belajar Dirumah
Tabel 3.23 Perhatian yang diberikan ibu ketika anak belajar di rumah untuk ibu bekerja
Tingkat Perhatian
Frekwensi
Persen
Tidak Ada
4
3,0
Kdang-kadang
73
55,3
Selalu
54
40,9
Tabel 3.24 Perhatian yang diberikan ibu ketika anak belajar di rumah untuk ibu tidak bekerja
Tingkat Perhatian
Frekwensi
Persen
Tidak Ada
4
3,9
Kadang-kadang
66
64,1
Selalu
31
30,1
            Memberikan perhatian ketika anak belajar dirumahnya menunjukkan pentingnya keberhasilan pendidikan anak bagi seorang ibu atau menunjukkan dukungan terhadap kemajuan pendidikan. Sehingga dapat mendatangkan motivasi bagi anak. Karena dukungan yang datang dari seorang ibu dapat mendatangkan motivasi yang berarti bagi kemajuan pendidikannya. Dari tabel 3.23 dan tabel 3.24 dapat kita lihat bahwa ibu bekerja lebih menunjukkan perhatian ketika anak belajar dirumah dibanding ibu yang tidak bekerja dengan perbedaan 10%. Ini menunjukkan bahwa ibu bekerja lebih memberikan perhatian terhadap kemajuan pendidikan anaknya dibandingkan dengan ibu bekerja.
Dan dari analisa korelasi yang telah dilakukan untuk melihat hubungan antara perhatian yang diberikan ibu ketika anak belajar dirumah dengan kenakalan remaja menunjukkan koefisien korelasi negatif yaitu -0,255. Ini berarti bahwa semakin besar perhatian yang diberikan seorang ibu terhadap anak ketika ia belajar dirumah maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja dan sebaliknya, semakin tidak ada perhatian yang ditunjukkan seorang ibu ketika anak belajar dirumah maka semakin besar tingkat kenakan remaja. Dan hipotesa ini dapat diterima karena memberikan nilai a yang lebih kecil dari nilai 0,05 yaitu 0,002.

Kenakalan yang Dilakukan Remaja
Kenakalan remaja semakin marak dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada penelitian ini peneliti ingin melihat perbedaan persentase remaja yang menyatakan terlibat dengan kenakalan remaja dibanding dan yang tidak terlibat dengan membandingkan antara ibu yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Dari kedua tabel dibawah ini dapat dilihat bahwa persentase remaja yang terlibat dengan kenakalan remaja adalah 64,4% untuk ibunya yang bekerja dan 67% untuk ibunya yang tidak bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya hampir memiliki persentase yang hampir sama besar. Hal ini dapat membuktikan bahwa ibu bekerja tidak merupakan salah faktor penyebab kenakalan remaja. Hal ini juga dibenarkan oleh AKP Murniati SH. Yang bertugas di Sat Reskrim Polda SUMUT berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti yang menyatakan ibu berkerja bukan merupakan salah satu faktor penyebab kenakalan remaja. Hal yang serupa juga dinyatakan oleh Bapak pendeta Pdt Johanes Ginting, Sth. Dari Yayasan Persekutan Doa Matius 5 Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa dan Narkoba Jalan Petunia Lingk III Kelurahan Namo Gajah No. 18 Kecamatan Medan Tuntungan, anak yang terlibat dengan narkoba sebahagian besar penyebabnya adalah kurang dekatnya hubungan emosi antara ibu dan anak. Sehingga anak terjerumus pada pergaulan yang kurang baik.
Tabel 3.25 Kenakalan remaja untuk ibu bekerja
Remaja Yang Melakukan Kenakalan
Frekwensi
Persen
Tidak
14
3,9
Ya
85
64,1
Tabel 3.26 Kenakalan remaja untuk ibu tidak bekerja
Remaja Yang Melakukan Kenakalan
Frekwensi
Persen
Tidak
33
32,0
Ya
69
67,0


Alasan Anak yang Menyebabkannya Melakukan Kenakalan
Dari beberapa alasan remaja mengapa mereka terlibat dalam kenakalan remaja yang berhasil dikumpulkan dari 154 remaja yang memiliki ibu bekerja dan yang tidak bekerja dapat dilihat untuk ibu bekerja remaja menyatakan karena mengikuti teman merupakan alasan yang dominan yang dinyatakan oleh remaja dan untuk ibu yang tidak bekerja alasan yang paling dominan dinyatakan mengapa mereka terlibat dengan kenakalan remaja adalah juga karena mengikuti teman. Dari kedua klasifikasi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa teman atau lingkungan pergaulan merupakan faktor penyebab bagi kenakalan remaja. Dengan mengetahui ini maka seorang ibu baik ibu yang bekerja maupun ibu yang bekerja harus lebih memperhatikan pergaulan dan kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Dengan dapat menjadi teman yang baik bagi anak dan menjalin komukasi yang baik dengan anak dapat menghindarkan remaja dari melakukan hal-hal yang tidak baik. Pernyataan ini juga dibenarkan oleh AKP Murniati SH dan Bapak Pdt Johanes Ginting, Sth. Dari Yayasan Persekutan Doa Matius 5 keduanya menyatakan bahwa lingkungan pergaulan merupakan penyebab kenakalan dikalangan remaja.
Tabel 3.27 Alasan anak yang menyebabkannya melakukan kenakalan untuk ibu bekerja
Alasan remaja
Frekwensi
Persen
Karena Mengikuti Teman
31
23,5
Biar Keren
2
1,5
Lagi Trend
2
1,5
Menarik Perhatian Orang Tua
3
2,3
Melampiaskan Perasaan
14
10,6
Iseng Saja
13
9,8
Untuk Pergaulan
3
2,3
Tidak Dapat Dihindari
6
4,5
Hal yang Biasa
13
9,8










Tabel 3.28 Alasan anak yang menyebabkannya melakukan kenakalan untuk ibu tidak bekerja
Alasan remaja
Frekwensi
Persen
Karena Mengikuti Teman
27
23,5
Lagi Trend
1
1,5
Menarik Perhatian Orang Tua
1
2,3
Melampiaskan Perasaan
13
10,6
Iseng Saja
8
9,8
Untuk Pergaulan
7
2,3
Tidak Dapat Dihindari
3
4,5
Hal yang Biasa
6
9,8

5.      Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode analisa deskriptif  dan analisa yang telah dijalankan untuk melihat gambaran pengaruh wanita karier terhadap peningkatan kenakalan dikalangan remaja dapat disimpulkan:
1.Hipotesa yang menyatakan wanita karier merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan kenakalan dikalangan remaja ditolak.
2.Dari analisa korelasi dapat diketahui semakin perhatian seorang ibu dengan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan yang dilakukan remaja.
3.Dari analisa korelasi diketahui semakin besar perhatian seorang ibu terhadap pendidikan anaknya maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja.
4.Dari analisa korelasi diketahui bahwa semakin ibu mengetahui kegiatan yang dilakukan remaja maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja.
5.Dari analisa korelasi menunjukkan semakin sering ibu memberikan motivasi dan nasehat kepada anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan remaja
6.Dari analisa korelasi diketahui semakin peduli seorang ibu terhadap pergaulan anaknya maka semakin rendah tingkat kenakalan remaja.
7.Dari analisa korelasi dapat dilihat bahwa semakin besar perhatian yang diberikan seorang ibu terhadap anak ketika ia belajar dirumah maka semakin kecil tingkat kenakalan remaja.
8.Persentase remaja yang terlibat dengan kenakalan remaja adalah 64,4% untuk ibunya yang bekerja dan 67% untuk ibunya yang tidak bekerja. Hal ini dapat membuktikan bahwa ibu bekerja tidak merupakan salah faktor penyebab kenakalan remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Ana, Yulia, 2007. Working Mom & Kids. Elex Media Komputindo.
Blau, Francine., and Marianne A. Ferber. 1992. The Economics of Women, Men, and
Work, Second Edition. Prentice Hall, Englewood, New Jersey.
Budiman, Arief. 1982. Pembagian Kerja Secara Seksual.PT Gramedia, Jakarta.
Darmastuti, Ari dan Ikram, 1997. Konsep dan Implikasi Jender. Seri Monografi
Lembaga Penelitian Universitas Lampung. Nomor 6, Juni 1997.
Farid, Ma’ruf. 2007. Kemuliaan Ibu dan Peningkatan Kualitasnya. Rumahku Surgaku. http://web.wordpress.com/html. 
Jhon Gotham, PhD & Joan De Claire, 1997. Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Gramedia Pustaka Utama.
Ninik, M. Handayani. 2003. Ibu Bekerja & Dampak pada Perkembangan Anak. Berita Hot. http://www.blogger.com/css/navbar/classic/css
Nugroho, Bhuono Agung. 2007. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Andi.
Roger W, Mclntire, 200. 5. Teenagers and Parent. 10 Langkah Menciptakan Hubungan yang Lebih Baik. Kanisius.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar