ANALISIS POMPA AIR UNTUK
RUMAH KACA GROWTH CENTRE KOPERTIS WILAYAH I NAD-SUMUT
Silvi Ariyanti
Jurusan Teknik Industri, Universitas Islam
Sumatera Utara
Abstrak
Rumah kaca Growth Center Kopertis Wil I NAD SUMUT
merupakan suatu tempat yang digunakan dalam kegiatan penelitian bagi bidang
ilmu pertanian. Untuk menghasilkan suatu sistem pengairan yang baik maka
diperlukan suatu analisis tentang sistem pompa dan perpipaan yang merupakan
alat penunjang didalam rumah kaca. Untuk menghasilkan sistem pompa yang baik
didalam rumah kaca Growth Center Kopertis Wil I NAD-SUMUT diperlukan sistem
pengairan dengan kecepatan, tekanan dan debit air yang sesuai dengan kebutuhan
rumah kaca. Penggunaan pompa yang sesuai juga dapat menghemat energi listrik
karena kapasistas pompa yang berlebihan selain pemborosan energi juga dapat
terjadi supplay air yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan bagi tanaman.
Untuk menghasilkan sistem pompa dan perpipaan yang baik maka dirumuskan
beberapa masalah yang perlu dianalisa. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini
adalah: bagaimana disain instalasi
perpipaan yang sesuai, berapa loses-loses (Head) pada disain instalasi
perpipaan, berapa daya dan putaran pompa yang sesuai dengan kebutuhan rumah
kaca Growth Centre Kopertis Wilayah I SUMUT-NAD. Dari hasil penelitian ini
dapat disimpulkan secara umum yaitu: disain perpipaan yang sesuai untuk
rumah kaca Growth Center Kopertis Wil I, kapasitas pompa yang sesuai adalah
0,2277 m3/jam dengan kapasitas sprinkler sebesar 0,9108 m3/jam,
perbedaan Head
tekanan pompa sebesar 14,1834 m, Head total pompa 39,6951598 m, daya pompa yang sesuai untuk rumah
kaca Growth Center Kopertis Wil I adalah
sebesar 0,1693 Hp atau 126,249 watt, daya motor untuk pompa yang sesuai
digunakan adalah sebesar 0,224 Hp
Kata-kata kunci: Rumah kaca, instalasi perpipaan, loses,
kapasitas springkler.
1. Pendahuluan
Banyaknya penemuan-penemuan baru pada bidang
teknologi, selalu didasari oleh kebutuhan manusia serta didorong oleh ilmu
pengetahuan yang bersifat dinamis dari waktu ke waktu. Manusia selalu berusaha
untuk mengefisiensikan seluruh pekerjaannya baik efisiensinya terhadap waktu
maupun tenaga. Bantuan teknologi dalam bidang pertanian seperti pompa
sangat membantu petani dalam kegiatan pertanian seperti membantu petani dalam
peningkatan hasil panen dan mengefisienkan waktu dalam proses penyiraman
tanaman.
Penggunaan teknologi pompa dalam penyiraman
tanaman didalam rumah kaca juga sangat membantu dalam proses penyiraman tanaman
yang terdapat didalam rumah kaca. Sistem penyiraman yang baik selain berguna
untuk mensupplay air kepada tanaman juga untuk menjaga kelembaban udara didalam
rumah kaca.
Rumah kaca Growth Center Kopertis Wil I NAD SUMUT
merupakan suatu tempat yang digunakan dalam kegiatan penelitian bagi bidang
ilmu pertanian. Untuk menghasilkan suatu sistem pengairan yang baik maka
diperlukan suatu analisis tentang sistem pompa dan perpipaan yang merupakan
alat penunjang didalam rumah kaca. Untuk menghasilkan sistem pompa yang baik
didalam rumah kaca Growth Center Kopertis Wil I NAD-SUMUT diperlukan sistem
pengairan dengan kecepatan, tekanan dan debit air yang sesuai dengan kebutuhan
rumah kaca. Penggunaan pompa yang sesuai juga dapat menghemat energi listrik
karena kapasistas pompa yang berlebihan selain pemborosan energi juga dapat
terjadi supplay air yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan bagi tanaman.
1.2. Perumusan Masalah
Untuk menghasilkan sistem pompa dan perpipaan yang
baik maka dirumuskan beberapa masalah yang perlu dianalisa. Adapun perumusan masalah
dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana disain instalasi
perpipaan yang sesuai untuk rumah kaca Growth Centre Kopertis Wilayah I
SUMUT-NAD
2. Berapa loses-loses (Head) pada
disain instalasi perpipaan pada kaca Growth Centre Kopertis Wilayah I
SUMUT-NAD.
3. Berapa daya dan putaran pompa
yang sesuai dengan kebutuhan rumah kaca Growth Centre Kopertis Wilayah I
SUMUT-NAD.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengetahuan Perpipaan
Pengetahuan
perpipaan merupakan sarana dan dasar pengetahuan di dalam perhitungan, perencanaan dan pelaksanaan perpipaan berikutnya. Hal apa saja
yang perlu diketahui pada teknik perpipaan ini
akan dapat dilihat pada keterangan berikut ini.
2.1.1
Jenis Pipa
Dari sekian jenis pembuatan pipa secara umum dapat dikelompokkan menjadi
dua bagian yaitu :
1. Jenis pipa tanpa sambungan (pembuatan pipa tanpa
sambungan
pengelasan).
2. Jenis pipa dengan sambungan (pembuatan pipa
dengan pengelasan).
2.1.2
Bahan-Bahan
Pipa Secara Umum
Bahan-bahan
pipa yang dimaksudkan di sini adalah struktur bahan pipa
tersebut yang dapat dibagi secara umum sebagai berikut:
1.
Carbon steel.
2.
Carbon moly
3.
Galvanees.
4.
Ferro nikel.
5.
Stainless steel.
6.
PVC (paralon).
7.
Chrome moly.
Sedang
bahan-bahan pipa yang secara khusus dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.
Vibre glass.
2.
Aluminium (aluminum).
3.
Wrought iron (besi tanpa tempa).
4.
Copper (tembaga).
5.
Red brass (kuningan merah).
6.
Nickel copper monel (timah tembaga).
7.
Nickel chrom iron inconel (besi timah chrom).
2.1.3 Komponen Perpipaan
Komponen perpipaan harus dibuat berdasarkan
spesifikasi, standar yang terdaftar
dalam simbol dan kode yang telah dibuat atau dipilih sebelumnya.
Komponen perpipaan yang dimaksud di sini meliputi:
1.
Pipes (pipa-pipa).
2.
Flanges (flens-flens)
3.
Fittings (sambungan).
4.
Valves (katup-katup).
5.
Boltings (baut-baut).
6.
Gasket.
7.
Special items (bagian khusus).
2.1.4 Pemilihan Bahan
Pemilihan bahan perpipaan haruslah disesuaikan
dengan pembuatan teknik perpipaan dan
hal ini dapat dilihat pada ASTM serta ANSI dalam pembagian sebagai
berikut:
1.
Perpipaan untuk pembangkit tenaga.
2.
Perpipaan untuk industri
bahan gas.
3.
Perpipaan untuk
penyulingan minyak mentah.
4.
Perpipaan untuk pengangkutan minyak.
5.
Perpipaan untuk proses pendinginan.
6.
Perpipaan untuk tenaga nuklir.
7.
Perpipaan untuk
distribusi dan transmisi gas.
Selain dari penggunaan
instalasi atau konstruksi seperti diterangkan di atas perlu pula
diketahui jenis aliran temperatur, sifat korosi, faktor gaya serta kebutuhan lainnya dari
aliran serta pipanya.
2.1.5 Macam Sambungan Perpipaan
Sambungan perpipaan dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1.
Sambungan dengan menggunakan
pengelasan.
2.
Sambungan dengan menggunakan
ulir.
Selain sambungan seperti di atas,
terdapat pula penyambungan
khusus dengan menggunakan
pengeleman (perekatan) serta pengkeleman (untuk pipa plastik dan pipa vibbre
glass). Pada
pengilangan umumnya pipa bertekanan rendah dan pipa di bawah 2"
sajalah yang menggunakan sambungan ulir.
2.1.6
Tipe Sambungan Cabang
Tipe sambungan cabang (brance
conection) dapat
dikelompokkan
sebagai berikut:
1. Sambungan
langsung (stub in).
2. Sambungan dengan menggunakan fittings (alat penyamb Ling).
3. Sambungan dengan menggunakan flanges (flens-flens).
Tipe sambungan cabang dapat pula ditentukan pada spesifikasi yang telah dibuat sebelum mendisain atau dapat pula
dihitung berdasarkan perhitungan
kekuatan, kebutuhan, dengan tidak melupakan faktor efektivitasnya.
Sambungan cabang itu sendiri merupakan sambungan antara pipa dengan pipa, misalkan sambungan antara header dengan cabang yang lain apakah
memerlukan alat bantu penyambung lainnya
atau dapat dihubungkan secara langsung, hal ini tergantung
kebutuhan serta perhitungan kekuatan.
2.1. 7 Diameter, Ketebalan,
Schedule
Spesifikasi umum dapat dilihat pada
ASTM (American Society of Testing Materials). Di mana
di situ diterangkan mengenai diameter, ketebalan serta schedule pipa. Diameter
luar (out side diameter), ditetapkan
sama, walaupun ketebalan (thickness) berbeda untuk
setiap schedule. Diameter dalam (inside
diameter), ditetapkan berbeda untuk setiap schedule.
Diameter nominal adalah diameter pipa yang dipilih untuk pemasangan ataupun
perdagangan (commodity). Ketebalan dan
schedule, sangatlah berhubungan, hal ini karena
ketebalan pipa tergantung daripada schedule pipa itu sendiri.
Schedule pipa ini dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
1.
Schedule: 5, 10, 20, 30, 40, 60,
80, 100, 120, 160.
2.
Schedule standard.
3.
Schedule extra strong (XS).
4.
Schedule double extra strong (XXS).
5.
Schedule special.
Perbedaan-perbedaan schedule ini dibuat guna:
1. Menahan internal pressure dari aliran.
2.
Kekuatan dari material itu sendiri (strength of material).
3. Mengatasi karat.
4. Mengatasi kegetasan pipa.
5.
Sistem Perpipaan
Perancangan sistem perpipaan yang
kompleks yang digunakan untuk mengangkut air pada suatu daerah tertentu, hal
yang paling penting yang ingin diketahui adalah mengenai masalah distribusi
alirannya. Dalam perancangan suatu jaringan, aliran diberbagai titik merupakan
prasyarat dan dari sanalah ukuran pipa ditentukan, ini juga merupakan masalah
yang rumit karena kita harus memecahkannya dengan cara coba-coba yang berurutan
atau iterasi.
Metode iterasi yang digunakan
untuk menyelesaikan permasalahan jaringan pipa adalah metode Hardy-Cross koreksi untuk setiap loop dihitung sebagai berikut
(Jack B. Evert, 1988);

Dimana :
n = 1.85
(jika menggunakan persamaan Hazen-Williems)
n = 2.0 (jika
yang digunakan adalah persamaan Darcy-Weisbach).
Maka kapasitas sebenarnya dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut
ini (Jack B. Evert, 1988);
Q =
+ Qo
Dimana :
Qo =
Kapasitas yang ditaksir
2.2
Pompa
Pompa merupakan suatu alat yang digunakan untuk
memindahkan fluida cair dari tempat yang rendah ke tempat lain yang lebih
tinggi. Fluida cair tersebut dapat berpindah atau mengalir karena adanya beda
tekanan tertentu yang dihasilkan oleh pompa. Dengan kata lain agar pompa dapat
mengalirkan air maka pompa harus membuat perbedaan pada sisi isap pompa dengan
sisi tekan pompa.
2.2.1 Spesifikasi Pompa
Dalam memilih suatu pompa untuk suatu maksud
tertentu, terlebih dahulu harus diketahui kapasitas aliran serta
head yang diperlukan untuk mengalirkan zat cair yang akan dipompa.
Selain dari pada itu, agar pompa dapat bekerja tanpa mengalami kavitasi,
perlu ditaksir berapa tekanan minimum yang tersedia pada sisi
masuk pompa yang terpasang pada instalasinya. Atas dasar tekanan
isap ini maka putaran pompa dapat ditentukan. Kapasitas
aliran, head, dan putaran pompa dapat ditentukan seperti tersebut di atas. Tetapi apabila perubahan
kondisi operasi sangat besar (khususnya perubahan kapasitas dan head) maka
putaran dan ukuran pompa yang akan dipilih harus ditentukan dengan
memperhitungkan hal tersebut.
Selanjutnya, untuk menentukan penggerak mula yang
akan dipakai, harus lebih dahulu
dilakukan penyelidikan tentang jenis sumber tenaga yang dapat dipergunakan di tempat yang bersangkutan. Contoh data yang umumnya diperlukan untuk memilih
pompa disajikan dalam Tabel
2.1.
Cara untuk menentukan spesifikasi pompa seperti jenis, diameter pompa, dan daya yang diperlukan,
akan diuraikan seperti berikut ini.
Tabel 2.1
Data yang diperlukan untuk pemilihan pompa.
No
|
Data yang diperlukan
|
Keterangan
|
1
|
Kapasitas
|
Diperlukan juga keterangan mengenai kapasitas
maksimum dan minimum.
|
2
|
Kondisi isap
|
Tinggi isap dari
permukaan air isap ke level pompa.
Tinggi fluktuasi
permukaan air isap.
Tekanan yang
bekerja pada permukaan air isap.
Kondisi pipa
isap.
|
3
|
Kondisi keluar
|
Tinggi permukaan
air keluar ke level pompa.
Tinggi fluktuasi
permukaan air keluar.
Besarnya tekanan
pada permukaan air keluar.
Kondisi pipa
keluar.
|
4
|
Head total pompa
|
Harus ditentukan berdasarkan kondisi-kondisi diatas.
|
5
|
Jenis zat cair
|
Air tawar, air
laut, minyak, zat cair khusus
(zat kimia),
temperatur, berat jenis, viskositas,
kandungan zat
padat, d1l.
|
6
|
Kondisi kerja
|
Kerja
terus-menerus, terputus-putus, jumlah jam kerja seluruhnya dalam setahun.
|
7
|
Penggerak
|
Motor listrik,
motor bakar torak, turbin uap.
|
8
|
Poros tegak atau
Mendatar
|
Hal ini
kadang-kadang ditentukan oleh pabrik pompa yang bersangkutan berdasarkan
instalasinya.
|
9
|
Tempat instalasi
|
Pembatasan-pembatasan
pada ruang instalasi,
ketinggian di
atas permukaan laut, di luar atau
di dalam gedung,
fluktuasi temperatur.
|
10
|
Lain-lain
|
2.2.2
Kapasitas Aliran
Laju aliran yang menentukan kapasitas pompa
ditentukan menurut kebutuhan pemakaiannya. Di bawah
ini akan diberikan cara menentukan laju aliran untuk berbagai pemakaian yang
wring dijumpai dalam praktek.
Pengairan rumah kaca
Rumah kaca umumnya
digunakan digunakan untuk kegiatan penelitian. Dalam pelaksanaan
pengoperasiannya rumah kaca juga banyak membutuhkan air. Air yang dibutuhkan
rumah kaca digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman dan juga menjaga
tempertur didalam rumah kaca.
Penentuan kapasitas
pompa ini merupakan fungsi dari banyaknya air yang dibutuhkan didalam rumah
kaca .
Qp = Qrk .....................
Dimana :
Qp = Kapasitas pompa ( m3/jam )
Qrk = Kapasitas air yang
dibutuhkan rumah
kaca ( m3 /jam)
2.2.3
Jumlah Pompa
Jika laju aliran keseluruhan (yaitu jumlah konsumsi
air bersih atau drainase) telah
ditentukan maka kapasitas pompa dapat dihitung dengan membagi laju aliran total
tersebut dengan jumlah pompa yang dipakai. Dalam menentukan jumlah pompa, hal-hal berikut ini harus diperhatikan.
(1) Pertimbangan ekonomi
Pertimbangan ini menyangkut masalah biaya, baik biaya investasi untuk pembangunan instalasi maupun
biaya operasi dan pemeliharaannya.
(a) Biaya instalasi
Pada
umumnya untuk laju aliran total yang sama, biaya keseluruhan untuk pembangunan
fasilitas mekanis kurang lebih tetap sama meskipun dipakai jumlah pompa yang berbeda.
Juga
dapat dikatakan bahwa jumlah biaya untuk fasilitas mekanis kurang lebih proposional
terhadap laju aliran asalkan head, NPSH tersedia, model dan jenis pompa tetap sama.
Namun,
jika jumlah pompa diambil sedemikian rupa (dalam batas-batas tertentu) hingga
memungkinkan dipakainya pompa standar yang murah, maka biaya keseluruhan untuk fasilitas mekanis
kadang-kadang dapat menjadi lebih rendah.
(b)
Biaya operasi dan
pemeliharaan
Komponen biaya operasi
yang terpenting adalah biaya untuk energi atau daya. Biaya ini dapat dibuat ekonomis
apabila diambil langkah-langkah berikut.
1) Jika
kebutuhan air berubah-ubah, maka beberapa pompa dengan kapasitas sama, yaitu
sebesar atau hampir sebesar konsumsi minimum, harus dipakai. Atau dapat juga dipakai beberapa
pompa dengan lebih dari satu macam kapasitas.
2) Pada
umumnya jika kapasitas pompa menjadi besar, efisiensi pompa juga menjadi lebih tinggi. Jadi penggunaan daya menjadi lebih ekonomis.
Agar biaya pemeliharaan dan pengelolaan dapat ditekan,
jumlah pompa tidak boleh terlalu banyak.
Selain itu sedapat mungkin pompa-pompa yang dipakai sama antara yang satu dengan yang lain agar suku cadangnya dapat
saling dipertukarkan. Hal ini akan memudahkan pemeliharaan.
(2) Batas kapasitas pompa
Sebagai akibat dari
kemajuan dalam teknologi permesinan dan teknik sipil, pompa-pompa dengan kapasitas sangat besar dapat dibuat
akhir-akhir ini. Batas atas kapasitas suatu
pompa pada umumnya tergantung pada kondisi berikut
a.
Berat dan ukuran terbesar yang dapat
diangkut dari paberik ke tempat pemasangan.
b. Lokasi pemasangan pompa
dan cara pengangkatannya.
c. Jenis penggerak dan cara
mentransmisikan daya dari penggerak ke pompa.
d. Pembatasan
pada besarnya mesin perkakas yang dipakai untuk mengerjakan bagian-bagian pompa.
e.
Pembatasan pada
performansi pompa (seperti kavitasi dll).
(3) Pembagian
resiko
Menggunakan hanya satu pompa untuk melayani laju aliran keseluruhan dalam
suatu instalasi yang penting adalah besar resikonya. Instalasi
akan tidak berfungsi samasekali jika pompa
satu-satunya itu rusak. Jadi untuk memperkecil resiko, perlu dipakai dua pompa atau lebih,
tergantung pada pentingnya instalasi. Selain dari pada itu, untuk memperbesar keandalan instalasi, perlu disediakan
sedikitnya satu pompa cadangan, tergantung pada kondisi kerja dan
pentingnya instalasi.
Setelah
jumlah pompa dan kapasitas masing-masing dapat dipilih dengan mempertimbangkan hal-hal di atas maka diameter isap
pompa dapat ditentukan. Dalam tabel 2.2 dan 2.3 diberikan diameter isap untuk berbagai kapasitas
pompa.
Diameter isap pompa tidak perlu sama dengan diameter pipa isap atau pipa
air yang ada. Dalam hal ini diameter pipa isap tidak boleh lebih
kecil dari pada diameter isap pompa. Besarnya diameter pipa isap ditentukan
menurut pertimbangan ekonomis berdasarkan biaya instalasi dan operasi.
Jika diameter pipa isap lebih besar dari pada diameter isap pompa, dapat dipakai
reduser untuk menyambungkannya.
2.2.4 Karakteristik
Sistem Pemompaan
Tahanan Sistem: Head
Tekanan diperlukan untuk memompa cairan melewati sistim pada laju tertentu.
Tekanan ini harus cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sistim, yang juga
disebut “head”. Head total merupakan jumlah dari head statik dan head gesekan/ friksi.
a).
Head Statik
Head statik merupakan perbedaan tinggi antara sumber dan
tujuan dari cairan yang Dipompakan. Head statik merupakan aliran yang
independen.
Head
statik
terdiri dari:
§ Head
hisapan
statis (hS): dihasilkan dari pengangkatan cairan relatif terhadap garis pusat
pompa. hS nilainya positif jika ketinggian cairan diatas garis pusat pompa, dan
negatif. jika ketinggian cairan berada dibawah garis pusat pompa ( juga disebut
“pengangkat hisapan”)
§ Head
pembuangan
statis (hd): jarak vertikal antara garis pusat pompa dan permukaan cairan dalam
tangki tujuan.

Gambar 2.1. Head Statik Pompa
b). Head Gesekan/Friksi
Ini merupakan kehilangan yang diperlukan untuk
mengatasi tahanan untuk mengalir dalam pipa dan sambungan, debit aliran, dan
sifat dari cairan. Head gesekan/friksi sebanding dengan kwadrat debit aliran.
Kerugian head akibat gesekan dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan Darcy, menurut (Jack B. Evert, 1988) yaitu :
hf = f 
Dimana :
hf =
Kerugian head karena gesekan
f =
Faktor gesekan
d =
Diameter pipa
L =
Panjang pipa
V =
Kecepatan aliran
g = Percepatan gravitasi
Selain kerugian yang diakibatkan oleh gesekan, pada suatu jalur pipa juga
terjadi kerugian karena belokan, siku, sambungan, katup, dan sebagainya, yang
disebut kerugian kecil. Dalam hampir semua ikhwal, kerugian kecil ditentukan
dengan eksperimen. Namun suatu kekecualian untuk kerugian tinggi tekan yang
disebabkan oleh pembesaran mendadak pada jalur pipa, menurut (Victor L.
Streeter, 1985) dapat dihitung dengan persamaan :
he = K 
Besarnya konstanta K
dapat dicari dari perbandingan diameter yang menurut Victor L. Streeter, (1985)
dinyatakan sebagai :
K = 

3. METODE
PENELITIAN
Perincian dan langkah-langkah yang akan dilakukan
dalam melaksanakan penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
- Studi dan tinjauan pustaka
- Mendesain Sistem Instalasi perpipaan
- Menentukan formula-formula matematis dan software komputer untuk perhitungan.
- Menghitung loses-loses instalasi perpipaan.
- Menghitung kapasitas pompa dengan metode Hardy-Cross.
- Pemasangan instalasi pipa dan pompa
- Pengujian, Pengukuran dan Pencatatan Data
- Analisa Data.
- Membuat Kesimpulan dan Saran
- Membuat laporan akhir.
4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Kebutuhan Air
Besarnya air yang
digunakan untuk kebutuhan penyiraman tanaman dalam rumah kaca dipengaruhi oleh
kelembaban dan temperatur. Apabila kelembaban dan temperatur tidak sesuai
dengan kebutuhan tanaman yang ada maka disinilah pompa dihidupkan untuk
mensuplai air ke Sprinkler untuk disemprotkan ketanaman dan ruangan sehingga kembali
kekeadaan seperti semula.
Pada Rumah kaca Growth
Centre sistem operasi Sprinkler masih manual yaitu apabila kelembaban dan
temperatur tidak sesuai maka operator akan menghidupkan pompa air untuk dialiri
ke sprinkler yang terpasang sehingga besarnya kebutuhan air yang harus disuplai
pompa adalah sama dengan jumlah kebutuhan air untuk sprinkler yang terpasang.
4.2. Sistem Instalasi Perpipaan
Secara umum rancangan istalasi perpipaan dapat
dilihat pada gambar 4.1 berikut ini.
Dalam perencanaan ini perlu diperhatikan beberapa
hal berikut :
- Pompa digunakan untuk
menghisap air dari Bak Penampung dan kemudian distribusikan ke sprinkler.
-
Sistem perpipaan dipasang menjadi 3 bagian yaitu pipa utama, pipa sub
utama dan pipa service. Pipa utama mengalirkan air dari pompa ke pipa sub utama, pipa sub
utama mengalirkan air dari pipa utama ke pipa service sedangkan pipa service
mengalirkan air dari pipa sub utama ke sprinkler.
- Sprinkler dipasang 4 buah
dengan sistem Iverted Mount (posisi diatas) dengan jangkauan air mencapai 17.5
Feet = 5.3 m seperti terlihat pada gambar 4.1 berikut.

Gambar 4.1. Rancangan Instalasi
Sprinkler untuk Rumah Kaca Growth Centre
4.3.
Kapasitas Pompa
Penentuan kapasitas pompa ini merupakan fungsi
dari banyaknya air yang dibutuhkan tanaman (kapasitas sprinkler) dan jumlah
sprinkler yang dibutuhkan untuk mengaliri lahan.
Qp = QS . N
Dimana :
Qp = Kapasitas pompa ( m3/jam )
Qs = Kapasitas Sprinkler ( m3 /jam)
N = Jumlah sprinkler yang dibutuhkan
Dari Spesifikasi Sprinkler yang terpasang yaitu :
S 10 Spinner diperoleh kapasitas sprinkler adalah 0,79 – 5 GPM dan jumlah
sprinkler yang dibutuhkan adalah 4 sprinkler. Maka kapasitas pompa adalah :
Qs
= 2,5 GPM (direncanakan)
= 0,00378 m3/menit
=
0,2277 m3/jam.
Maka :
Qp = 0,2277 m3/jam . (4)
= 0,9108 m3/jam
= 0.000253 m3/detik
Maka banyaknya air yang harus
disuplai adalah 0,9108 m3/jam.
4.4.
Tinggi Tekanan (Head) Pompa
Head pompa adalah energi
persatuan berat yang khusus disediakan oleh pompa untuk memindahkan fluida yang
direncanakan. Dapat juga dikatakan bahwa head pompa adalah energi persatuan
berat yang diberikan pompa untuk mengatasi energi tekanan, perbedaan
ketinggian, kerugian sepanjang pipa dan kerugian pada kelengkapan instalasi
pompa. Jadi head pompa harus disediakan untuk memindahkan air seperti yang
direncanakan atau ditentukan oleh instalasi. Untuk itu, menentukan head pompa
dapat digunakan rumus :
H = Ha + DHP + HI +
Dimana :
H = Head total pompa
Ha = Head statis pompa
DHP = Perbedaan tekanan yang
bekerja pada kedua permukaan air
HI = Berbagai kerugian head di dalam pipa dari
peralatan lainnya
4.4.1.
Head Statis

Gambar 4.2. Head Statis
Head statis dalam suatu
instalasi pompa sering juga disebut sebagai head aktual yaitu perbedaan tinggi
antara permukaan air pada sisi hisap dengan permukaan air pada sisi keluar.
Jadi head statis pada sistem instalasi pompa yang direncanakan adalah 3,875 m,
yaitu perbedaan permukaan air dari bak penampung dengan permukaan air pada
ujung sprinkler, hal ini dapat dilihat pada gambar 4.2 diatas.
4.4.2 Perbedaan Head Tekanan
Perbedaan head tekanan timbul karena adanya
perbedaan tekanan permukaan pada sisi hisap dengan sisi keluar. Pada sistem
instalasi ini terdapat perbedaan tekanan yang bekerja pada kedua permukaan yang
dipompakan. Besarnya perbedaan head dapat dituliskan sebagai berikut :
DHP =
Dimana :
DHP= Perbedaan head tekanan
hpl = Tekanan yang bekerja pada saat
air keluar melalui sprinkler
= 2,4 Bar
hp2 = Tekanan yang bekerja pada
sumber air sebesar tekanan atmosfir karena sisi atas sumber air terbuka
= 1,013 . 105 Bar
g = Berat jenis zat cair pada suhu 25° C
= 9779 N/m3
Tekanan permukaan pada sisi hisap sama dengan
tekanan uap jenuhnya (tekanan kerja bak penampung), sedangkan tekanan permukaan
pada sisi tekan adalah tekanan kerja.
DHP = 
=
14,1834 m
4.4.3. Head
Akibat Kecepatan
Head kecepatan adalah head akibat adanya perbedaan
kecepatan aliran fluida pada pipa tekan dan pipa hisap. Diameter pipa akan
mempengaruhi kecepatan masuk dan keluarnya fluida. Ukuran pipa pada perencanaan
instalasi Ini adalah sebagai berikut :Diameter pipa hisap : 1 inchi
·
Diameter pipa tekan terdiri dari :
- Pipa utama (1 bagian): 1 inchi= 0,0254 m
-
Pipa sub utama (2 bagian): 3/4 inchi
= 0,01905 m
- Pipa service (4 bagian): ½ inchi
= 0,0127 m
Dari data diatas dapat ditentukan kecepatan aliran
dari sisi hisap dan kecepatan aliran dari sisi tekan. Menurut Sularso (1987),
bahwa kecepatan aliran fluida ( dalam pipa ) pada umumnya berkisar antara 1,5 –
3 m/det untuk pipa besar, sehingga untuk keamanan pipa, kecepatan aliran dalam
pipa tidak boleh melebihi angka diatas.
Kecepatan masing - masing aliran dapat dicari
dengan rumus sebagai berikut :
Q = A . V
V =
( 4.2) (
4.2)
Dimana. :
Q = Kapasitas pompa (m3/jam
A = Luas Penampang ( m2 )
V = Kecepatan aliran fluida dalam pipa ( m/det)
Maka :
Kecepatan aliran pada pipa utama (1 bagian) :
Vpu
= 
=


=
0,5 m/det
Kecepatan aliran pada sub utama ( 2 bagian)
Vpu
=
=


=
0,444 m/det
Kecepatan aliran pada pipa service (4 bagian)
Vser
= 
=


=
0,5 m/det
Kecepatan aliran pada pipa utama sama dengan
kecepatan aliran pada pipa service sehinga beda kecepatan pada masing – masing
pipa adalah :
AV = 0,5 - 0,444
=
0,056 m/ det
Maka :
Hv
= 
=

=
0,0001598 m
4.4.4. Head
Loses
Head loses adalah kerugian head akibat terjadinya
gesekan antara fluida dengan dinding pipa dan akibat adanya peralatan -
peralatan tambahan seperti belokan, katup dan lain sebagainya. Jadi head loses
pada pipa dan peralatan tambahan tersebut dapat dibagi kedalam dua golongan
yaitu :
- Kerugian Mayor (mayor loses, Hf)
- Kerugian minor ( minor loses, Hm).
Kerugian mayor adalah kerusakan akibat adanya gesekan
antara fluida dan dinding pipa yang menurut Streeter Victor (1992), dapat
dituliskan :
Hf = f x
x 
Dimana :
Hf = Kerugian mayor
F = Koefisien gesekan pipa
L = Panjang pipa
Dp = Diameter pipa
Vp = Kecepatan aliran dalam pipa
G = Gaya gravitasi bumi (9,81 m/det2)
Kerugian minor adalah kerugian yang ditimbulkan
oleh peralatan tambahan pada saluran fluida seperti elbow, T flange, gate
valve, sprinkler dan lain-lain, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
Hm = Sk x
Dimana :
k = Kerugian gesekan/kerugian
peralatan tambahan
Dengan demikian head loses adalah
jumlah kerugian mayor ( Hf ) dan kerugian minor (Hm) yang dapat dituliskan
sebagai berikut :
Hl = Hf + Hm
Hl = f x
x
+ Sk x
Kerugian mayor yang disebut juga kerugian gesekan
merupakan fungsi dari koefisien gesek, panjang pipa, diameter pipa dan
kecepatan aliran fluida. Sedangkan koefisien gesek merupakan fungsi dari
bilangan reynold dan kekasaran relatif pipa, dimana harga koefsien gesek ini
dapat dilihat dari diagram moody berikut.

Gambar 4.3. Diagram Mody
Sedangkan rancangan Instalasi pipa, panjang pipa dan
jumlah pipa yang dipergunakan pada rumah kaca growth centre seperti
diperlihatkan pada gambar 5.4 berikut

Gambar 4.4. Instalasi perpipaan
Menurut Sularso (1987), jenis aliran
berdasarkan bilangan Reynold terbagi atas 3 bagian yaitu :
1.
Re
< 2300 jenis aliran laminar
2.
Re
> 4000 Jenis aliran turbulen, dan
3.
2300
< Re < 4000 jenis aliran transisi
Beranjak dari klasifikasi aliran maka aliran
fluida dalam perencanaan ini adalah aliran turbulen. Bilangan reynold dicari
dengan rumus :
Re =
Dimana :
Re
= Bilangan Reynold
m = Koefisien kekentalan kinematik
flnida
= 0,897 x 10-6 m2/det,
( kekentalan air pada suhu 25°C)
Vp
= Kecepatan aliran dalam pipa
Dp
= Diameter pipa
Dalam perencanaan ini pipa diambil dari
tabung/pipa tarik dengan kekasaran absolut e = 0,0015 mm. Maka
besarnya kekesaran relatif pipa adalah :
Tabel 4.1. Kekasaran rata-rata
pipa-pipa komersial

Untuk perhitungan total kerugian mayor selanjutnya
akan dihitung dengan bantuan Software Microsoft Excel seperti tabel 4.3.
Untuk menghitungkan kerugian minor harus terlebih
dahulu mengetahui peralatan tambahan yang menyebabkan kerugian tersebut ( Tabel
4.2).
Tabel 4.2. Jenis dan koefisien
peralatan tambahan
Jenis peralatan
|
Jumlah
|
K
|
K total
|
T flange
Nozle
Gate valve
|
3
4
5
|
0.25
0.25
0.6
|
0.75
1
3
|
Dalam Instalasi perpipaan ini pada sisi hisap
terdapat satu buah elbow 90°, pada sisi tekan terdapat 3T flange, 3 elbow 90°,
satu gate valve.
No
|
Panjang
|
Diameter
|
Kecepatan
|
Re
|
Jenis Aliran
|
Kekasaran Relatif
|
Faktor Gesekan
|
Hf
|
(m)
|
(m)
|
(m/s)
|
D
|
f
|
(m)
|
|||
1
|
3.325
|
0.0254
|
0.5
|
557413.6009
|
Turbulen
|
5.90551E-05
|
0.0115
|
1.846013164
|
2
|
3.812
|
0.01905
|
0.444
|
494983.2776
|
Turbulen
|
7.87402E-05
|
0.0125
|
2.418649166
|
3
|
1.712
|
0.0127
|
0.5
|
557413.6009
|
Turbulen
|
0.00011811
|
0.012
|
1.983628346
|
4
|
3.925
|
0.01905
|
0.444
|
494983.2776
|
Turbulen
|
7.87402E-05
|
0.0125
|
2.490345744
|
5
|
1.712
|
0.0127
|
0.5
|
557413.6009
|
Turbulen
|
0.00011811
|
0.012
|
1.983628346
|
6
|
1.712
|
0.0127
|
0.5
|
557413.6009
|
Turbulen
|
0.00011811
|
0.012
|
1.983628346
|
7
|
3.925
|
0.01905
|
0.444
|
494983.2776
|
Turbulen
|
7.87402E-05
|
0.0125
|
2.490345744
|
8
|
1.712
|
0.0127
|
0.5
|
557413.6009
|
Turbulen
|
0.00011811
|
0.012
|
1.983628346
|
9
|
3.812
|
0.01905
|
0.444
|
494983.2776
|
Turbulen
|
7.87402E-05
|
0.0125
|
2.418649166
|
10
|
3.671
|
0.0254
|
0.5
|
557413.6009
|
Turbulen
|
5.90551E-05
|
0.0115
|
2.038109572
|
Total Kerugian
Mayor (Hf)
|
21.63662594
|
|||||||
Maka total harga koefisien minor loses sepanjang
instalasi pipa adalah :
Sk = 0,75 + 1 + 3
= 4,75
Maka besarnya kehilangan minor adalah :
Hm =
Sk x 
= 4,75 x 
= 0,0606 m
Total head kerugian (HI) adalah :
HI
= Hf + Hm
= 21,6366 + 0,0606
= 21,6972 m
Maka head total pompa adalah :
H =
Hs + DHp + Hl + Hv
=3,875+
14,1834 + 21,6366 + 0,0001598
=
39,6951598 m.
Dalam merencanakan head pompa, head rencana harus
dilebihkan dari head perhitungan untuk mengatasi pertambahan head loses pada
instalasi pipa akibat kotoran pipa dan kemungkinan kurang telitinya perhitungan
head pompa tersebut.
Menurut Igor J. Karassik (1987), biasanya diberi
penambahan 10 – 25% dari head pompa. Dengan demikian head pompa yang akan
direncanakan menjadi:
H = 39,6952 + 10%
=
43,6647 m
Dalam perencanaan ini diambil head sebesar 43,6647
m dan head inilah yang selanjutnya akan diperhitungkan.
5.5.
Pemilihan Jenis Pompa
Tipe pompa atau jenis pompa yang akan digunakan
tergantung kepada karakteristik pemompaan dan ketersediaan pompa di pasaran.
Berdasarkan karakteristik pemompaan dengan head total = 43,6647 m dan kapasitas
pompa = 0,9108 m3/jam, pengoperasian dan pemeliharaan yang
sederhana, perawatan yang mudah serta keamanan selama operasi, maka pemakaian
pompa sentrifugal akan lebih efisien daripada jenis pompa yang lain.
5.6. Daya
Pompa dan Daya Penggerak Pompa
Daya pompa menurut Fritz Dietzel, dihitung dengan
rumus :
Np=
(
4.7 )
Dimana :
g = Berat jenis air
(1000 kg/m3)
Qp = 0,9108 m3/jam =
0,000253 m3/s
H =
43,6647 m
hp = Efisiensi pompa (87%)
Maka :
Np = 
=
0,1693 Hp
=
126,249 watt.
Daya penggerak pompa menurut Sularso (1987), dihitung
dengan rumus:
Nk =
…. ( 4.8 )
Dimana :
Nk = Daya penggerak pompa
a = Faktor cadangan daya, antara
0,1–0,2
= 0,15 (direncanakan)
ht = Efisiensi transmisi
= 0,87 (asumsi)
Np = 4,04 Kw
Daya motor yang dipergunakan adalah :
Nk =

= 0,224 Hp.
Daya sebesar inilah yang harus disuplai oleh motor
untuk dapat menggerakan pompa air bagi penyediaan kebutuhan pengairan sebanyak
0,9108 m3/jam.
6. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini
dapat disimpulkan secara umum yaitu:
1.
Disain perpipaan yang sesuai untuk rumah
kaca Growth Center Kopertis Wil I ada adalah disain perpipaan yang ditunjukkan
pada gambar 5.1.
2. Kapasitas pompa yang sesuai untuk rumah kaca
Growth Center Kopertis Wil I adalah 0,2277 m3/jam
dengan kapasitas sprinkler sebesar 0,9108 m3/jam.
3.
Perbedaan Head
tekanan pompa sebesar 14,1834 m
4.
Head total pompa
39,6951598 m
5. Daya pompa yang sesuai untuk rumah kaca Growth Center Kopertis Wil I adalah sebesar 0,1693 Hp atau 126,249 watt.
6. Daya motor untuk pompa yang sesuai digunakan adalah sebesar
0,224 Hp
DAFTAR
PUSTAKA
Fritz Dietzel (1993), “ Turbin, Pompa dan Kompressor ”, Penerbit Erlangga,
Jakarta.
Jack B. Evert,
Cheng Liu (1988), “ Fundamental Of Fluid Mechanics ”, Mc Graw-Hill, Singapore.
US Department of
Energy (DOE), Office of Industrial Technologies. Pump Life Cycle Costs:A guide to LCC analysis for pumping systems.
DOE/GO-102001-1190.2001.http://www1.eere.energy.gov/industry/bestpractices/techpubs_motors.
html
US Department of Energy (US DOE), Office of Industrial
Technologies. Variable Speed Pumping – A Guide to Successful Applications.
Executive Summary. 2004.
http://www1.eere.energy.gov/industry/bestpractices/techpubs_motors.html
US Department of Energy (US DOE), Office of Industrial Technologies.
Improving Pump System performance, A Source Book for Industry. As part of:
Motor Challenge Program. 1999. http://www1.eere.energy.gov/industry/
bestpractices/techpubs_motors.html
Victor L.Streeter, E.Benjamin Wylie, Arko Prijono (1985 ), “ Mekanika
Fluida ”, Edisi 8, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar